Home Headline Kios Pasar Jadikan Ajang Prostitusi, Belasan PSK Terjaring Razia

Kios Pasar Jadikan Ajang Prostitusi, Belasan PSK Terjaring Razia

6191
Belasan PSK usai terjaring razia lalu dilakukan pendataan oleh petugas di kantor Satpol PP Kendal sebelum di bawa ke Rehabilitasi Sosial di Solo Jawa Tengah, Selasa (17/)
Belasan PSK usai terjaring razia lalu dilakukan pendataan oleh petugas di kantor Satpol PP Kendal sebelum di bawa ke Rehabilitasi Sosial di Solo Jawa Tengah, Selasa (17/)
Belasan PSK usai terjaring razia lalu dilakukan pendataan oleh petugas di kantor Satpol PP Kendal sebelum di bawa ke Rehabilitasi Sosial di Solo Jawa Tengah, Selasa (17/)

Kendal, 17/3 (BeritaJateng.net) – Belasan wanita pekerja seks komersial (PSK) ditangkap jajaran anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Kendal yang biasa mangkal di Pasar Weleri II tepatnya di Desa Penyangkringan Kecamatan Weleri, Selasa (17/3) .

Setidaknya 12 orang wanita yang bekerja sebagai PSK ini, terjaring razia oleh Satpol PP Kendal dalam operasi yustisi dan penegakan perda nomor 10 tahun 2008 tentang pelacuran dan perda nomor 3 tahun 2011 tentang penyelenggaraan administrasi kependudukan.

Wahyuni (42), salah seorang PSK asal Kretek Wonosobo mengaku tinggal di daerah tersebut baru sekitar tiga bulan. Namun, belum cukup mengumpulkan uang dirinya sudah keburu ditangkap petugas. “Sebenarnya saya menjadi pedagang warung makan dipasar itu. Sembari mencari pemasukan lain saya berprofesi seperti itu,” akunya.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Kendal, Toni Ari Wibowo mengatakan tempat yang digunakan untuk ajang prostitusi itu yakni berada di kios-kios pasar. Di kios tersebut di rubah menjadi berupa kamar-kamar kecil yang disekat dengan papan kayu triplek.

“Ada sebanyak 16 kamar yang kami temukan. Dengan ukuran 2 x 2 meter dan ada juga yang berukuran kecil 1,5 x 2 meter,” ujar Kasatpol PP.

Toni menambahkan awal dilakukan razia dalam penegakan perda ini atas laporan dari masyarakat. Jika di kios pasar sering digunakan untuk tempat prostitusi, siang maupun malam terlebih pada hari pasaran jawa Kliwon semakin ramai.

“Saat dilakukan razia, sebelumnya beberapa anggota ada yang menyamar sebagai pelanggan dengan berpakaian preman. Kemudian menawar kepada para PSK tersebut. Dan rata-rata tarif mereka sebesar Rp 100 ribu,” terangnya.

Menurutnya, laporan dari masyarakat sudah ada sejak dua bulan lalu. Namun setelah dilakukan pengecekan dan pemetaan, bahwa ditempat los-los kios pasar memang positif digunakan untuk ajang prostitusi.

“Para wanita PSK yang terjaring razia yustisi dalam penegakan perda ini kebanyakan usianya sudah empat puluh tahun ke atas. Tidak hanya di kios pasar, lokasi prostitusi juga disinyalir ada di rumah-rumah warga,” imbuhnya.

Belasan PSK yang terjaring razia lalu dilakukan pendataan, dan rencananya langsung akan di bawa ke tempat rehabilitasi sosial “Wanita Utama” yang berada di kota Solo untuk di bina dan diberi pelatihan. (BJ19)