Home Lintas Jateng Kepala Organda Semarang Dituding Hambur-hamburkan Uang, Kuasai 8 BRT Trans Jateng

Kepala Organda Semarang Dituding Hambur-hamburkan Uang, Kuasai 8 BRT Trans Jateng

196
0
Sempat disegel anggotanya, kantor DPC Organda Semarang kembali dibuka
           SEMARANG, 13/10 (BeritaJateng.net) – Polemik yang terjadi di Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Kota Semarang, berusaha diredam dan diselesaikan melalui sidang pleno di Kantor Organda Kota Semarang di Jalan Sendowo 31A, Kota Lama Semarang, Kamis (12/10/2017) siang. Terjadi perdebatan sengit, bahkan pleno tersebut sempat memanas.
               Pleno ini menindaklanjuti polemik yang sebelumnya terjadi penyegelan kantor Organda Kota Semarang oleh sejumlah pengurus beberapa waktu lalu. Akibatnya, organisasi ini vakum sementara. Sejumlah pengurus sempat melakukan aksi mosi tidak percaya terhadap Ketua DPC Organda Kota Semarang Wasi Darono yang dituding melakukan penyalahgunaan wewenang dan jabatan. Di antaranya terkait dugaan menghambur-hamburkan uang organisasi dengan dalih dipinjamkan, dan pertanggungjawaban terkait pengelolaan delapan unit BRT Trans Jateng yang tidak transparan.
           Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Organda Provinsi Jateng, Karsidi Budi Anggoro mengatakan, pihaknya telah menerjunkan tim investigasi untuk menelusuri masalah dugaan penyalahgunaan wewenang dan jabatan yang ditudingkan kepada Ketua Organda Kota Semarang Wasi Darono. Termasuk dugaan menghambur-hamburkan uang dengan dalih dipinjamkan.
             “Sudah dilakukan investigasi. Setelah kami menerima laporan dari Pak Sumitro (Wakil Ketua Organda Kota Semarang), kami bentuk tim investigasi. Tim ini kemudian melakukan investigasi ke tempat-tempat yang dilaporkan itu. Hasil investigasi kemudian dikumpulkan dan dibahas dalam sidang pleno untuk dianalisa. Sudah dicek, anggaran ini-itu termasuk pasal berapa di dalam ADART organisasi, semua sudah dilakukan,” kata Karsidi.
               Kesimpulan hasil investigasi, terang dia, ditemukan ketidaktepatan langkah yang dilakukan oleh Ketua Organda Kota Semarang Wasi Darono. “Memang ada langkah Pak Wasi Darono yang ‘miss’, yaitu dia bisa mengeluarkan uang untuk dipinjamkan kepada pihak luar.  Itu salah. Tapi dalam konteks ini hanya pada tingkat evaluasi kinerja, bukan waktu LPj Muscab. Sehingga (kesalahan) itu bisa diperbaiki. DPD Organda Provinsi Jateng menyatakan peringatan keras agar jangan diulangi lagi. Dengan catatan, uang-uang itu harus ditarik semua kembali. Nilainya sebenarnya sedikit kok, antara Rp 20 juta – hingga Rp 25 jutaan kalau nggak salah. Kalau tidak ada kejelasan, konco-konco ini bertanya ya wajar,” katanya.
Polemik intern di tubuh DPC Organda Semarang telah diselesaikan

Kaitannya dengan pengelolaan sebanyak delapan unit BRT Trans Jateng, kata dia, tidak ada sangkut pautnya dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD-ART) Organda, karena hal itu teknis operasional. “Sedangkan kaitannya dengan penyembunyian uang dan sebagainya itu sebetulnya sudah diselesaikan. Ketua Organda Kota Semarang membuat pernyataan tertulis di atas materai, sanggup untuk menyelesaikan masalah ini. Kata dia (Wasi Darono), berdasarkan hasil tim investigasi, sudah 99 persen selesai. Sidang Pleno ini (kemarin) mestinya harus memberitahukan kepada pengurus, kalau apa yang menjadi permasalah tersebut sebenarnya sudah selesai. Kira-kira begitu,” katanya.

             Terkait aksi mosi tidak percaya sebagaimana dilakukan oleh sejumlah anggota DPC Organda Kota Semarang, lanjutnya, sudah ada aturan dan mekanisme dalam ADART Organda. “Mosi tidak percaya itu, pertama harus ditandatangani anggota sebanyak 51 persen plus satu. Kalau hanya menyampaikan ‘mosi tidak percaya’ saja ya itu tidak bisa diterima. Kalau dalam sidang pleno tidak ada data, maka keluarlah keputusan bahwa ‘mosi tidak percaya; itu tidak bisa dianggap sah sesuai aturan ADART. Memang, kemarin ada perbedaan pendapat, tapi sekarang sudah klir kok. Tidak ada masalah,” katanya.
             Wakil Ketua Organda Kota Semarang, Sumitro, selaku pihak melaporkan masalah ini mengaku menerima hasil keputusan pleno. Mengenai masalah-masalah yang masih mengganjal agar diselesaiakan di lingkup intern. “Organda ini kan layanan masyarakat, secara eksteren sarana prasarana sekarang tidak ada masalah. Hanya persoalan penyelesaian di intern saja. Secara keseluruhan saat ini sudah tidak ada masalah. Untuk persoalan kecil-kecil agar diselesaikan intern saja. Mosi tidak percaya sudah tidak ada, tinggal bagaimana nanti cara Pak Wasi Darono dalam memimpin rapat. Kalau nanti masih mengarah ke kepentingan pribadi ya mungkin (jadi masalah lagi). Tapi kalau sudah berubah ya tidak ada masalah,” katanya.
              Dia juga membantah aksi penyegelan kantor yang dilakukan oleh pihaknya bersama sejumlah anggota lain beberapa waktu lalu. “Untuk diklarifikasi, itu bukan menyegel. Tapi kegiatan Organda Kota Semarang dihentikan sementara. Ini sudah dibicarakan dan sudah ada titik temu. Memang ada kesalahpahaman sedikit sehingga rapat pleno sempat memanas. Nanti diselesaikan pelaporan pertanggungjawaban keuangan dan terkait pengelolaan 8 unit BRT Trans Jateng,” katanya.
              Sementara, Ketua Organda DPC Kota Semarang Wasi Darono, mengatakan masalah ini telah diselesaikan dengan dimediasi oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Organda Provinsi Jateng dan pembina teknis. “Sudah klir, tidak masalah. Dalam organisasi, adanya orang tidak puas kan boleh saja. Mosi tidak percaya pun boleh, tapi harus melalui mekanisme dan prosedur yang ada,” ujarnya. (El)