Home Lintas Jateng Kepadatan Nyamuk di Solo Melebihi Batas Normal

Kepadatan Nyamuk di Solo Melebihi Batas Normal

nyamukk

Solo, 12/1 (BeritaJateng.net) – Tingkat kepadatan nyamuk atau house index (HI) di Kampung Clolo, Kelurahan Kadipiro, Kecamatan Banjarsari, Solo, mencapai 25 persen atau melebihi batas normal lima persen.

Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kota (DKK) Surakarta, Efi S Pertiwi, di Solo, Senin, mengatakan bahwa dari hasil pemeriksaan jentik berkala di rumah warga di Clolo oleh Puskesmas Gambirsari dibantu pihak Kelurahan Kadipiro, hasilnya cukup mencengangkan yakni HI melebihi ambang batas lima persen.

“HI-nya sangat tinggi yakni 25 persen. Padahal, harusnya untuk pemukiman HI maksimal lima persen sedangkan untuk perkantoran nol persen,” katanya.

Ia mengatakan dengan demikian, memang ada korelasi merebaknya DB di Clolo dengan HI di rumah-rumah warga. Untuk mengantisipasi masalah yang sama, pihaknya bersama kelurahan dan warga berencana melakukan pemberantasan sarang nyamuk secara serentak.

Dikatakan meski kondisi di lapangan seperti itu, Pemkot Surakarta dalam hal ini DKK belum menetapkan mewabahnya DB di Kampung Clolo Kadipiro sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Dia mengatakan tidak bisa gegabah dalam menetapkan KLB. Pasalnya, selain ada sejumlah persyaratan, DKK juga harus melakukan analisa di lapangan.

“Data yang masuk baru ada dua warga Clolo yang terkena DB. Padahal, isu di luar menyebutkan ada dua korban meninggal dan belasan di RS. Masalahnya, kami belum menerima Surat Keterangan DBD Rumah Sakit (KDRS). Jadi, belum bisa diputuskan apakah KLB atau tidak,” katanya.

Ia mengatakan sesuai aturan yang ada, penetapan KLB harus memenuhi syarat khusus. Salah satunya peningkatan jumlah kasus sebanyak dua kali lipat dibandingkan pada bulan yang sama di tahun sebelumnya.

Dikatakan data DKK menyebutkan Januari 2014 ada empat kasus dan satu di antaranya meninggal dunia. Sementara itu, informasi yang beredar menyebutkan awal Januari ini sudah ada 17 kasus dan dua di antaranya meninggal dunia.

“Tahun 2014 lalu ada 256 kasus dan empat meninggal dunia. Sedangkan untuk 2013 ada 261 kasus dan tujuh orang meninggal serta 2012 ada 30 kasus dan seorang korban jiwa,” katanya. (ant/BJ)