Home Kesehatan Kenali Ciri Anak Alergi Pada Susu

Kenali Ciri Anak Alergi Pada Susu

ilustrasi

 

ilustrasi
ilustrasi

Semarang, 26/10 (BeritaJateng.net) – Saat ini, diperkirakan satu dari 25 anak di Indonesia menderita alergi protein susu sapi dengan kecenderungan yang semakin meningkat karena faktor genetik, gaya hidup, dan lingkungan, serta kurangnya pengetahuan dan pengenalan terhadap penyebab,  gejala, dan cara penangangan alergi yang tepat.

Untuk itu dibutuhkan langkah penanganan yang tepat agar anak alergi protein susu sapi tetap dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

dr. Zakiudin Munasir, SpA(K) Konsultan Ahli Alergi-Imunologi dari RSCM, mengatakan, mengenali alergi menjadi langkah pertama yang paling penting dalam manajemen alergi susu sapi.  Dengan mengenali gejala alergi berikut penyebabnya secara tepat, anak dengan alergi susu sapi dapat memperoleh penanganan yang tepat sehingga tumbuh kembang nya akan optimal.

Alergi protein susu sapi adalah salah satu alergi makanan yang paling umum dialami oleh anak, hal ini disebabkan oleh reaksi imunologis sebagai respon tubuh terhadap  pemberian susu sapi dan semua bentuk turunannya, gejalanya dapat mulai terlihat dalam usia 6 bulan pertama setelah lahir di bagian organ tubuh tertentu.

Pemicunya adalah saat sistem imun anak mengganggap protein susu sapi sebagai zat yang berbahaya / asing yang tidak dikenali. Dengan demikian, akan timbul gejala gejala reaksi alergi.

“Alergi susu sapi umumnya dialami anak yang mempunyai bakat alergi yang disebut atopik, dimana bakat tersebut diturunkan secara genetik oleh salah satu atau kedua orangtuanya. Jika orang tua memiliki alergi terhadap suatu makanan, termasuk susu sapi, maka 50% kemungkinan si anak memiliki alergi yang sama. Selain faktor genetik, faktor risiko lain yang bisa menimbulkan alergi adalah faktor lingkungan, seperti alergen (zat asing), polusi, dan infeksi.” Ujarnya.

Gejala yang paling sering muncul pada anak yang mengalami alergi protein susu sapi adalah masalah di saluran cerna, mulai dari muntah, kolik, diare, darah dalam feses, serta masalah pada kulit berupa bentol merah gatal, bentol merah berisi cairan, keropeng, kulit kering dan gatal.

Gejala klinis lain yang mungkin muncul adalah bengkak dan gatal di bibir sampai lidah, nyeri dan kejang perut, muntah sampai diare berat yang disertai berdarah.

Alergi ini juga bisa juga berdampak pada gangguan saluran pernapasan seperti bersin-bersin disertai gatal di hidung, hidung tersumbat, batuk pilek berulang, sesak napas dan asma.  Di Indonesia gejala paling umum adalah pada pernafasan (51,5%) dan kulit (48,7%), selanjutnya pada pencernaan (39,3%) dan gejala-gejala lain seperti pada mata dan susunan saraf pusat atau sakit kepala.

“Setelah mengenali satu atau lebih gejala alergi pada anak, segera konsultasikan ke tenaga medis untuk mendapatkan penanganan dan nutrisi yang tepat,” kata dr. Zaki.

Penanganan alergi melalui pemberian nutrisi yang tepat sangatlah penting, karena saat ini masih sering ditemukan kasus anak penderita alergi protein susu sapi yang terkena gangguan di saluran cerna menjadi sulit makan sehingga mengalami komplikasi kurang gizi atau malnutrisi, yang biasanya terlihat dari berat dan tinggi badan yang sulit bertambah.

Malnutrisi ini tidak bisa dibiarkan karena dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan fisik serta kecerdasan anak. (Bj/bsns)