Home Headline Kemilau Cahaya Curug Gondoriyo, Aksi Tabuh Lesung hingga Cicipi Nasi Bleduk 

Kemilau Cahaya Curug Gondoriyo, Aksi Tabuh Lesung hingga Cicipi Nasi Bleduk 

1094
Kemilau Bercahaya Curug Gondoriyo, Aksi Tabuh Lesung hingga Cicipi Nasi Bleduk 

SEMARANG, 12/2 (BeritaJateng.net) – Malam pertama dilakukan soft launching obyek wisata “Curug Bercahaya” di RW 4 Dusun Karang Joho, Kelurahan Gondoriyo, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, mendapat sambutan meriah warga sekitar.

Pengunjung membludak karena penasaran ingin menyaksikan wajah baru Curug Gondoriyo yang berkilau di kegelapan bukit itu. Sayang sekali, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi yang ditunggu-tunggu oleh warga, tidak bisa hadir dalam kesempatan tersebut.

Namun hal itu tak mengurangi kemeriahan acara soft launching wisata yang digagas oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kelurahan Gondoriyo ini. Berbagai aksi pertunjukan kesenian tradisional ditampilkan oleh ibu-ibu yang merupakan anggota Pokdarwis. Di antaranya tarian tradisional diiringi musik tabuh lesung.

Kemilau Bercahaya Curug Gondoriyo, Aksi Tabuh Lesung hingga Cicipi Nasi Bleduk

Warga juga memperkenalkan kuliner tradisonal khas masyarakat setempat bernama Nasi Bleduk dan Wedang Sinom. Hingga pada acara puncak yang paling ditunggu adalah penyalaan kemilau air terjun bercahaya di dasar curug.

Pengunjung dan tamu undangan langsung berduyun-duyun turun menapaki bukit yang dilengkapi dengan tangga berundak terbuat dari cor.

“Ini masih pra launching. Launchingnya kami rencanakan pada 17 Februari mendatang,” kata Ketua Pokdarwis Kelurahan Gondoriyo, Arifin di sela acara.

Ia menyampaikan ungkapan terima kasih atas respons masyarakat yang begitu antusias untuk datang di tempat wisata baru tersebut. “Ini curug alam yang sebetulnya sudah lama ada, tetapi selama ini belum tergarap sama sekali,” katanya.

Lebih lanjut, dia mengaku adanya perwajahan baru di Curug Gondoriyo tersebut melewati proses perjuangan panjang yang memeras energi hingga materi. Berkat tekad dan keuletan warga untuk membangun wilayah agar lebih baik, membuat hal tersebut bisa terealisasikan.

“Tujuannya demi kesejahteraan warga,” katanya.

Lurah Gondoriyo, Kokok Indarto mengaku terharu melihat perjuangan Pokdarwis Gondoriyo untuk mewujudkan tempat wisata di kampung tersebut. “Saya gemetar melihat antusias warga yang sangat banyak berdatangan di Curug Gondoriyo,” katanya dalam sambutan.

Dia berharap, warga mendukung kreativitas Pokdarwis untuk terus mengembangkan Curug Gondoriyo hingga menjadi salah satu tempat wisata unggulan di Kota Semarang.

“Tidak hanya curugnya saja, tapi nanti bisa dikembangkan misalnya dibuat kolam renang. Karena memungkinkan adanya air bersih. Sehingga hal itu bisa menarik wisatawan,” ujarnya.

Dia juga berharap agar sejumlah stakeholder, seperti Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan lain-lain, memberi dukungan dalam pengembangan. “Sebab, tanpa dukungan dari berbagai pihak, saya rasa, kami, warga, termasuk Pokdarwis tidak bisa apa-apa,” katanya.

Sementara perwakilan dari Disbudpar Kota Semarang, Eka Kriswati mengatakan mengapresiasi upaya Pokdarwis Gondoriyo.

“Saya mengapresiasi atas berdirinya rintasan pariwisata Curug Gondoriyo. Mereka telah mewujudkan tempat ini menjadi wisata. Harapannya agar bisa menyejahterakan rakyat,” katanya.

Pihaknya berjanji akan mendukung penuh untuk kelancaran dalam pengelolaan ke depan. “Ayo wisata ke Gondoriyo, ono pipo londo, sego bleduk lan telo, mugi warga tambah mulyo. Kami siap mendampingi pengelolaan pariwisata di Kota Semarang,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua RW 4, Haryanti, memperkenalkan kuliner tradisional khas Nasi Bleduk dan Wedang Sinom. Kuliner ini akan mendukung keberadaan obyek wisata Curug Gondoriyo.

“Nasi Bleduk itu kuliner tradisional yang terbuat dari beras dicampur jagung. Sejarahnya, dulu ketika zaman penjajahan, warga susah makan karena miskin. Nasi beras ini menjadi makanan istimewa. Tapi karena beras sulit didapatkan dan mahal, masyarakat mengombinasikan beras dan jagung,” terangnya.

Nasi Bleduk tersebut pada zaman dulu cukup mewakili sebagai makanan istimewa karena ada berasnya. Saat ini makanan unik ini diangkat kembali dengan kombinasi lauk kluban dari dedaunan dari kebun warga dengan paduan bumbu rempah.

 “Cara memasaknya menggunakan bleduk kayu, sehingga baunya harum dan sedap. Makanan ini awet dan tidak bau,” bebernya.

Sedangkan untuk Wedang Sinom adalah minuman kesehatan yang terbuat gula aren, kunyit, dan daun asem. “Sinom lho, bukan Mbok Nom (istri muda, Red). Itu kasiatnya mantab, hangat di tubuh, rasanya mak nyus,” katanya sembari molontar canda. (AK/EL)