Home Nasional Kemenristek : Riset Perguruan Tinggi Diseluruh Dunia Masih Minim 

Kemenristek : Riset Perguruan Tinggi Diseluruh Dunia Masih Minim 

586

Semarang, 27/11 (BeritaJateng.net) – Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Dimyati mengatakan minimnya riset perguruan tinggi dialami hampir semua negara.

“Bukan hanya di Indonesia. Di negara maju pun juga sama. Pola di dunia memang seperti itu karena ‘screening’ di industri memang sangat ketat. Makanya, kita harus terus bekerja keras,” katanya di Semarang, Jumat.

Hal itu diungkapkannya usai membuka “1st Universitas Negeri Semarang (Unnes) International Conference on Research Innovation and Commercialization for Better Life 2015” di Hotel Patra Jasa Semarang.

Dimyati mencontohkan di Amerika Serikat sebagai negara maju yang juga mengalami minimnya riset perguruan tinggi yang terhilirasi ke industri, namun riset yang terpublikasi sudah sangat banyak.

“Dari 100 persen ‘invention’ (penemuan, red.) di AS, hanya sekitar 22 persennya yang didorong ke arah inovasi. Dari 22 persen ini, baru sekitar 8,8 persennya yang terhilirisasi ke industri,” katanya.

Kondisi yang kurang lebih sama juga dialami Indonesia, kata dia, dengan masih minimnya hasil riset perguruan tinggi yang terhilirisasi ke industri, bahkan riset yang terpublikasi juga masih minim.

Sekarang ini, ia mengakui masih banyak penelitian-penelitian perguruan tinggi yang berhenti sebelum tahapan hilirisasi, yakni sebatas menjadi pelengkap perpustakaan atau sekadar laporan di meja kerja.

“Ini kan menjadikan anggaran penelitian yang disediakan pemerintah meski tidak terlalu banyak, menjadi mubazir. Kami terus mendorong agar riset-riset perguruan tinggi terhilirisasi,” katanya.

Ia mengatakan salah satu langkah yang ditempuh adalah mewajibkan konsorsium, antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan industri untuk mendorong hilirisari hasil riset ke dunia industri.

“Meski dalam skala kecil, penelitian yang terhilirisasi ke industri ini sangat menguntungkan. Seperti penelitian mengenai kedelai hitam yang ditangkap salah satu industri, yakni Unilever,” katanya.

Kalau pola konsorsium tiga unsur itu diikuti oleh perguruan-perguruan tinggi lain, Dimyati mengatakan semakin banyak hasil riset perguruan tinggi yang terhilirisasi dan terkomersialkan secara luas.

Sementara itu, Rektor Unnes Prof Fathur Rokhman mengatakan riset yang berkualitas bukan hanya sebatas dibaca atau dikutip, namun terpublikasi di tingkat internasional dan jadi pancatan riset selanjutnya.

“Untuk Unnes, sebagai lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) memiliki ‘core’ dalam bidang pendidikan. Makanya, kami terus mendorong riset pengembangan dan inovasi pendidikan,” katanya. (Bj)

Advertisements