Home Headline Kemenkumham Jateng Akui Kesulitan Pantau Bisnis Narkoba dari Nusakambangan

Kemenkumham Jateng Akui Kesulitan Pantau Bisnis Narkoba dari Nusakambangan

image
Ilustrasi

Cilacap, 2/2 (Beritajateng.net) – Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) mengakui sulit memantau pengendalian bisnis narkoba yang dilakukan narapidana dari dalam Lembaga Pemasyarakatan Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

“Kita tidak bisa menghalangi orang besuk. Ketika ada orang besuk, bisa saja dia mengatur (bisnis narkoba, red.) dengan yang orang besuk, obrolannya tidak mungkin kita halangi,” kata Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kemenkumham Provinsi Jawa Tengah Yuspahruddin saat dihubungi dari Cilacap, Senin.

Ia mengatakan hal itu kepada Antara terkait dua narapidana Lembaga Pemasyarakatan Pasir Putih, Pulau Nusakambangan, Cilacap, yang diciduk Badan Narkotika Nasional (BNN) pada Kamis (29/1) karena diduga mengendalikan bisnis narkoba dari dalam penjara.

Sebanyak dua narapidana tersebut, yakni Silvester Obiekwe Nwaolise alias Mustofa yang merupakan terpidana mati kasus narkotika dan Riyadi alias Andi alias Jidat alias Zidane.

Terkait dengan kasus Silvester dan Andi, Yuspahruddin mengaku heran karena berdasarkan informasi dari BNN, dua narapidana tersebut mengendalikan bisnis narkotika dari dalam penjara dengan menggunakan telepon seluler.

“Saya juga bingung, saya kalau masuk ke Pasir Putih itu tidak bisa ‘ngapa-ngapain’ dengan HP (telepon seluler) saya. Enggak tahu kalau dia punya keterampilan yang canggih lagi, kita tidak ngerti,” katanya.

Dia mengatakan Pasir Putih merupakan lapas di Pulau Nusakambangan yang letaknya paling ujung dan tidak terjangkau sinyal telepon seluler.

Bahkan, dia mengaku sering kali kesulitan untuk menghubungi nomor telepon seluler milik Kepala Lapas Pasir Putih.

Akan tetapi, katanya, banyak kemungkinan yang bisa terjadi ketika terpidana itu dibesuk.

“Apapun bisa dikerjakan ketika orang membesuk karena kita tidak pernah menghalangi orang itu dibesuk,” katanya.

Disinggung mengenai kemungkinan adanya pembatasan pembesuk, Yuspahruddin mengatakan pihaknya sebenarnya sudah membatasi jumlah pembesuk narapidana Nusakambangan.

Saat ini, kata dia, pembesuk narapidana Nusakambangan tidak boleh dalam jumlah banyak karena telah dibatasi dua hingga tiga orang untuk seorang narapidana.

Menurut dia, pembesuk-pembesuk itu telah diperiksa secara berlapis mulai dari Dermaga Wijayapura di Cilacap hingga pintu masuk lembaga pemasyarakatan di Nusakambangan.

“Namun kalau pembicaraan (obrolan, red.) bisa saja, dia sebutkan ini, ini, ini. Sama seperti kalau Abu Bakar Ba’asyir ada yang membesuk, dia sampaikan seperti ini, tolong tulis, kan bisa, tidak harus Abu Bakar Ba’asyir menulis dari dalam,” katanya.

Sesampainya di luar, kata dia, pembesuk menulis pesan Abu Bakar Ba’asyir sehingga terpidana kasus terorisme itu terkesan membuat tausiah dari dalam penjara.

Silvester Obiekwe Nwaolise alias Mustofa dan Riyadi alias Andi alias Jidat alias Zidane dijemput oleh petugas BNN dari Nusakambangan untuk dibawa ke Jakarta pada Kamis (29/1).

Sebelum dijemput, petugas lembaga pemasyarakatan menggeledah kamar yang ditempati Andi dan Mustofa di Blok A1.16. Petugas berhasil menyita satu telepon seluler dengan piranti penguat sinyal di kamar Andi dan Mustofa.

Dalam keterangan tertulis BNN, Andi diduga kuat mengendalikan kurir bernama Dewi atas perintah Mustofa. Dewi ditangkap oleh petugas BNN di bilangan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, dan menyita barang bukti berupa sabu-sabu 7.622,9 gram.

Silvester alias Mustofa memanfaatkan Andi (32), rekan satu kamarnya untuk menjadi pengatur kurir di luar penjara yang menjalankan peran pengantar jemput narkoba.

Berdasarkan keterangan, Andi mengatakan selalu didampingi oleh Mustofa setiap kali berkomunikasi dengan kurir di luar lembaga pemasyarakatan.

Andi mengaku awalnya disuruh oleh Mustofa untuk membersihkan kamar, tapi lambat laun ditawari untuk menjadi pengatur aksi kurir narkoba.

Andi sempat mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Salemba Jakarta selama dua tahun sebelum akhirnya dipindahkan ke Nusakambangan pada 2013. Ia sudah menjalankan sepertiga masa tahanannya dari vonis penjara tujuh tahun atas kasus narkoba. Mustofa mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan selama 11 tahun dengan vonis mati atas kasus penyelundupan 1,2 kilogram heroin di Bali pada 2003.

Pada November 2012, Mustofa pernah mengendalikan dua kurir bernama Iman dan Devi untuk menyelundupkan sabu-sabu 2,4 kilogram dari Papua Nugini ke Indonesia. Pada Agustus 2014, Mustofa mengendalikan dua kurir yang membawa sabu-sabu 6,5 kilogram di daerah Surabaya.(ant/bj02)