Home Lintas Jateng Kembangkan Kebudayaan Dengan Beragam Strategi Pendekatan Modernisme

Kembangkan Kebudayaan Dengan Beragam Strategi Pendekatan Modernisme

DSC_0929-1

Semarang, 24/10 (BeritaJateng.net) – Tidak adanya strategi kebudayaan membuat aspek-aspek kebudayaan di Indonesia semakin tergerus arus global. Globalisasi tak bisa dibendung dan dilawan namun tetap mampu disikapi dan diimbangi dengan strategi yang jitu.

Demikian dikemukakan antropolog Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro Semarang Agus Maladi Irianto dalam  Semarang Trending Topic: Diskusi Membangun Jawa Tengah, bertema “Kembangkan Kearifan Lokal di Dunia yang Makin Global” Jumat (23/10) di Hotel Dafam Semarang.

Diskusi yang digelar oleh Radio Idola 92,6 FM bekerjasama dengan Hotel Dafam  itu juga menghadirkan  narasumber Prof  Rustono (Guru Besar FBS Universitas Negeri Semarang) dan Albertus Kriswandhono (Tokoh Pelestari Cagar Budaya 2015, Anggota BP2KL Badan Pengelola Kawasan Kota Lama Semarang), serta dipandu oleh Nadia Ardiwinata (penyiar Radio 92,6 FM).

Menurut Agus Maladi, makin berjaraknya generasi muda dengan budaya akibat pemerintah dari waktu ke waktu tak pernah serius menyikapi kebudayaan. Selain itu, kegagalan kebudayaan juga dampak dari kegagalan pewarisan kultural generasi pendahulu.

Saat ini, lanjut dia, isu kebudayaan masih dipandang sebelah mata ketimbang bidang lain. Strategi kebudayaan pun tak pernah disiapkan. “Saat ini yang bisa kita lakukan, apa yang bisa direvitalisasi dari masa lalu. Globalisasi adalah keniscayaan. Dan, kearifan lokal adalah kekuatan,” ujar dosen yang juga pegiat Laboratorium Seni dan Kebudayaan Lengkong Cilik Semarang.

Dia mencontohkan, pada tahun 1970-an Amerika Serikat kalah dari Negara kecil Vietnam. Lalu, apa yang dilakukan mereka? Amerika Serikat melakukan strategi kebudayaan dengan memanfaatkan dunia perfilman. Maka dibuatlah, film Rambo yang dibintangi Sylvester Stallone.

“Melalui film Rambo, anak-anak muda di sana bangkit. Mereka seolah punya tokoh hero, padahal itu imajiner,” ujar Agus, mantan Ketua Dewan Kesenian Semarang ini.

Agus Maladi memaparkan, salah satu upaya yang bisa dilakukan pemerintah dalam menyasar anak muda yakni melalui sarana game online.

Semestinya pemerintah bisa mulai memikirkan bagaimana menyisipkan nilai-nilai kearifan lokal melalui piranti game online. “Anak-anak muda sekarang begitu sering mengakses game online, mengapa kebudayaan tidak dimasukkan melalui ini,” ujarnya.

Ia memaparkan, produk kebudayaan seperti tembang Jawa, dan kesenian tradisional, yang mulai ditinggalkan sebenarnya memiliki tiga nilai penting. Yakni,  sarana legitimasi sosial, pelindung sosial, kontrol sosial, dan ekspresi identitas bangsa. Tetapi, sayangnya sosialisasi mengenai hal itu tak ada.

“Saya termasuk generasi gagal untuk merespons generasi sebelumnya. Untuk itu, mari kita kembalikan sebagai kontrol sosial dalam konteks kekinian,” imbuhnya.

Sementara itu, menurut Kriswandono, jika kita berpikir benar, berperilaku benar, maka produk budaya juga akan benar. Kebudayaan tidak sebatas bahasa dan seni. “Namun, menyikapi fenomena dengan kearifan lokal juga bagian dari kebudayaan,” tuturnya.

Terkait dengan melestarikan bangunan cagar budaya, lanjut Kris, pemerintah Jawa Tengah mesti fokus pada satu titik kawasan. Pasalnya di Jawa Tengah, ada banyak bangunan cagar budaya. Jika semuanya digarap maka hasilnya tak akan optimal. Ia mencontohkan kawasan Kota Lama. “Pemerintah diharapkan fokus mengelola dan mengembangkan kawasan Kota Lama. Jika tak fokus akan sulit sampai kapan pun,” ujarnya.

Prof Rustono juga menyampaikan, anak-anak muda kita saat ini memang lebih menyukai ke wilayah global. Minat untuk mempelajari bahasa, menggunakannya, dan melestarikannya menurun termasuk pada bidang kesenian.

“Hal ini salah satunya dipengaruhi tak adanya keteladanan dari kaum orang tua,” kata ketua umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) ini.

Menurut dia, generasi muda memang bebas megikuti arus global tetapi harus selektif. “Dengan tetap mempertimbangkan kearifan yang sudah diturunkan generasi kita dahulu,” katanya. (Bj)