Home Lintas Jateng Kematian Ibu Hamil dan Melahirkan Mencapai 403 Kasus di Kota Semarang

Kematian Ibu Hamil dan Melahirkan Mencapai 403 Kasus di Kota Semarang

STT-Tekan Kematian Ibu Melahirkan (2)

Semarang, 14/9 (BeritaJateng.net) – Hingga Agustus 2015 tercatat 403 kasus kematian ibu melahirkan di kota Semarang. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Yulianto Prabowo dalam Diskusi bertajuk ‘Turunkan Angka Kematian Ibu Melahirkan dan Bayi Baru Lahir’ di Hotel Dafam Semarang, Senin (14/9).

“Banyak faktor penyebab kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir, diantaranya faktor masyarakat, kesehatan primer, kesehatan sekunder, dan mutu pelayanan,” ujar Yulianto.

Faktor masyarakat, lanjut Yulianto, contohnya, remaja putri sekitar 50 persen mengalami anemia. Selain itu, sepertiga usia subur juga menderita anemia dan rendah gizi.

Menurutnya, problem ini membutuhkan komitmen bersama. Semua pihak punya potensi besar untuk menekan angka kematiannya. Mulai dari peran tim penggerak PKK, kader-kader kesehatan, puskesmas, rumah sakit hingga media massa. “Selain itu, maraknya teknologi melalui telepon seluler  juga bisa dimanfaatkan, dengan memanfaatkan layanan SMS Bunda ini,” katanya.

Yulianto menyebutkan, kasus kematian ibu hamil di Jawa Tengah masih terbilang tinggi. Jawa Tengah termasuk salah satu daerah yang berposisi di jajaran atas daerah dengan angka kematian ibu tinggi. Di Jawa Tengah, tiap tahun ada 500 ribu kehamilan. “15 persen di antaranya ada risiko komplikasi. Ini yang harus kita awasi,” kata dia.

Hingga Agustus 2015 ini, sudah ada 403 kasus ibu meninggal saat melahirkan. Adapun pada 2014, angka kematian ibu melahirkan mencapai 711 kasus dan angka kematian bayi 5.666 kasus. Itu berarti setiap hari terdapat hampir 2 orang ibu hamil meninggal dan hampir 16 bayi meninggal setiap hari. Pemerintah mendorong agar persalinan ibu hamil dilakukan di puskesmas, tak lagi di bidan.

Meskipun begitu, tambahnya, keberadaan dukun bayi, masih tetap diperlukan untuk pijat bayi atau ibunya. “Yang menolong persalinan tetap tenaga kesehatan,” katanya.

Hal ini berarti, untuk menekan angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir diperlukan sinergi semua pihak. Tak bisa mengandalkan satu pihak semata. (Bj05)