Home Headline Kejagung Diminta Limpahkan Berkas BW-Samad ke Pengadilan

Kejagung Diminta Limpahkan Berkas BW-Samad ke Pengadilan

Abraham_Samad

Jakarta, 8/10 (BeritaJateng.net) – Kejaksaan Agung diharapkan segera melimpahkan BAP Perkara Bambang Widjojanto (BW) dan Abraham Samad yang sudah P21. Hal ini untuk menghindari polemik apakah perkara kedua pimpinan non aktif KPK itu dideponiring atau tidak.

Hal ini disampaikan Ketua Presidium IPW Neta S Pane. Menurutnya, apa yang dilakukan Polri dalam menangani perkara BW dan Samad sudah sesuai dengan koridor supremasi hukum, yakni ada pelapornya, ada barang buktinya, dan kejaksaan sudah menyatakan BAP perkaranya P21.

“Jadi tidak ada alasan untuk menghentikan atau mendeponir perkara ini, apalagi perkaranya hanya menyangkut kepentingan pribadi BW dan Samad, dan bukan menyangkut kepentingan publik,” ujar Neta.

Sebab itu lanjut Neta, sangat aneh jika ada segelintir akademisi dan tokoh yang mendesak agar perkara BW-Samad dideponir.

“Kami menilai desakan itu sama
artinya mengangkangi KUHP dan mengkebiri penegakan supremasi hukum yang menggambarkan seolah olah BW-Samad kebal hukum. Untuk menghindari polemik yang berkepanjangan Jaksa Agung harus segera memerintahkan kejaksaan melimpahkan BAP Perkara BW-Samad ke pengadilan,” tambahnya.

Menurut Neta, Ada tiga hal yang bisa dicapai Jaksa Agung jika BAP BW-Samad segera dilimpahkan kejaksaan ke pengadilan. Pertama, Jaksa Agung menghargai kerja keras Polri dalam melakukan penegakan supremasi hukum dan menuntaskan perkara tersebut.

“Kedua, Jaksa Agung konsisten dalam melakukan penegakan supremasi hukum dan sekaligus membuktikan bahwa siapa pun sama kedudukannya di depan hukum dan ketiga, Jaksa Agung mampu memberi kepastian hukum dan mendorong penyelesaian perkara hukum di pengadilan,” ujarnya.

Lebih panjut Neta mengatakan, Jika BW-Samad memang benar tentu pengadilan akan membebaskan mereka. Bagaimana pun kepastian hukum menjadi sesuatu yang sangat penting dan strategis di era kepemimpinan Presiden Jokowi, sehingga masyarakat tidak diombang-ambingkan manuver segelintir orang, yang menamakan dirinya akademisi atau tokoh masyarakat. (BJ)