Home News Update Kegiatan Ekstrakurikuler Terancam, Jika Lima Hari Sekolah Diberlakukan

Kegiatan Ekstrakurikuler Terancam, Jika Lima Hari Sekolah Diberlakukan

ilustrasi
ilustrasi
ilustrasi

Semarang, 4/8 (BeritaJateng.net) – Pemberlakuan usulan program waktu belajar selama lima hari sekolah dalam beberapa waktu lalu, di jenjang sekolah menengah keatas (SMA /MA/SMK) oleh Gubernur Jateng mendapat perhatian khusus dari berbagai kalangan.

Dan besar kemungkinan jika ini diberlakukan, lima hari sekolah akan mengganggu kegiatan Ekstrakurikuler Siswa.

Komisi E bidang Pendidikan DPRD Jawa Tengah Muh Zen Adv, Msi mengatakan Efektifitas penerapan lima hari pembelajaran di sekolah dalam sepekan bisa diambil positipnya dengan beban belajar yang ada saat ini.

“Jika sekolah tetap 6 hari seminggu, maka pada Sabtu biasanya hanya kegiatan diri selama 2 jam pelajaran. Jika 2 jam pelajaran tersebut dipindahkan ke hari lain, maka hari belajar akan lebih efektif. Efektifitas lainnya yakni lebih banyak waktu komunikasi antar anak dengan orang tuanya di rumah sehingga orang tua bisa leluasa membimbing dan mendidik anak-anak mereka dirumah,” ungkapnya.

Kesiapan sekolah dalam menghadapi program baru ini juga harus diperhatikan mulai dari sarana, seperti tempat ibadah, laboratorium, kantin dan lainnya.

Sarana tersebut untuk menunjang kegiatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar, dikarenakan konsentrasi berkumpulnya siswa hampir setengah hari di sekolah.

Menurut Zen sendiri, jika 5 hari sekolah kemungkinan juga akan bisa menghilangkan jam ekstrakurikuler siswa. Perkembangan minat dan bakat siswa harus tetap dijaga sebagai ketrampilan tambahan.

“Karena banyak siswa yang mungkin mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sebagai penunjang kegiatan akademis,” tambahnya.

Beliau juga menyarankan, pihak Diknas atau sekolah harus pandai memanajemen waktu untuk menempatkan jam ekstrakurikuler dan jangan sampai dihilangkan. (MG-3)