Home News Update Kedua Kali Udinus Gerakkan Shalat Tahajud dan Subuh Berjamaah

Kedua Kali Udinus Gerakkan Shalat Tahajud dan Subuh Berjamaah

Semarang, 5/12 (BeritaJateng.net) – Gerakan Shalat Shubuh Berjamaah yang dikomandoni Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Nasional sudah kedua kali diadakan di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), kampus lain pun juga menggalakkan gerakan yang sama. Gerakan ini serentak digalakkan di kampus-kampus seluruh Indonesia. Seperti ITS, ITB, UI, IPB, Unmul, UNS dan puluhan kampus lainnya.

Rektor Udinus, Dr. Ir. Edi Noersasongko., M. Kom menyatakan gerakan ini sangat positif dan baik.

“Mahasiswa yang tadinya tidak pernah sholat subuh berjamaah kini menjadi gemar shalat subuh berjamaah di Masjid,” ujar Edi.

Selain shalat subuh, mahasiswa juga diajak shalat tasbih, shalat tahajud, sholat hajat dan shalat witir.

Ustadz Ari Purbono yang bertindak sebagai imam sekaligus penceramah mengatakan bahwa shalat tasbih termasuk amalan ibadah yang berbobot.

“Bahkan dijelaskan dalam sebuah riwayat, kalau bisa shalat tasbih dilakukan sebulan sekali, jika tidak bisa setahun sekali, jika tidak mampu maka seumur hidup sekali,” terang Ustadz Ari.

Meskipun bacaan dalam shalat tasbih dan tahajud ayatnya panjang. Ini belum seberapa jika dibandingkan di jaman rasul. Ustadz Ari menjelaskan pada jaman rasul kalau shalat malam, bacaan al fatihahnya lama ditambah lagi bacaan al baqarah sampai selesai.

Sungguh kenikmatan dari Allah bisa mengerjakan shalat subuh berjamaah. Ustadz Ari menceritakan,
Rasulullah pernah sekali dalam hidupnya kesiangan melaksanakan shalat subuh.

“Beliau menikmati shalat tahajud. Merasakan kantuk yang luar biasa dan hampir memasuki waktu dhuha,” imbuhnya.

Ustadz Ari mengisahkan Rasulullah dihampiri malaikat malam itu. Penduduk langit sedang membicarakan rasul dan umatnya.

“Allah memberi 3 amal sebagai penghapus dosa, yaitu jika seseorang mendengar adzan bergegas shalat berjamaah di masjid, jika shalat dan salam tidak buru-buru meninggalkan tempat shalat, serta menyempurnakan wudhu dalam keadaan apa saja,” tutur Ustadz Ari.

Adapun tiga amalan yang bisa mengangkat derajat seseorang, kata Ustadz Ari diantaranya orang yang gemar menafkahi orang miskin. Kemudian orang yang berkata lemah lembut dan tidak menyakiti. Maka Allah akan mengangkan derajatnya bukan hanya di mata Allah tetapi juga di mata manusia. Berikutnya, amal yang akan mengangkat derajat kita berupa amalan yang luar biasa yaitu qiyamul lail (shalat malam).

Ustadz Ari juga menceritakan guru TPQ di Semarang  yang masuk dalam menginspirasi. Setiap hari jumat pindah dari masjid satu ke masjid yang lain membagi nasi kucing dijalaninya selama 35 tahun. Padahal gajinya hanya 400 ribu.

“Logikanya ini belum mencukupi, namun berinfak itu masalah ketulusan hati bukan menunggu kaya,” terangnya. (BJT01)