Home Headline Kasus Raibnya Kasda Rp. 22 M Seret Oknum Pemkot dan 3 Mantan...

Kasus Raibnya Kasda Rp. 22 M Seret Oknum Pemkot dan 3 Mantan Walikota Semarang

1668

Semarang, 5/1 (BeritaJateng.net) – Diah Ayu Kusumaningrum (DAK) tersangka kasus raibnya dana kas daerah Pemerintah Kota Semarang Rp. 22 miliar menyatakan jika dana tersebut tidak dinikmati sendiri melainkan dibagi-bagikan kepada oknum pejabat pemerintah daerah hingga ke wali kota.

Pernyataan ini disampaikan DAK saat diperiksa sebagai saksi dalam sidang dengan tersangka mantan Kepala UPTD Kasda Kota Semarang Suhantoro di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Semarang, Selasa (5/1).

Diah membuka seluruh rangkaian proses yang terjadi hingga raibnya dana yang bersumber dari APBD selama tahun 2009 hingga 2015 tersebut.

Menurutnya, peristiwa tersebut berawal dari pemberian insentif sebesar 2 persen kepada pejabat Pemerintah Kota Semarang atas simpanan dana pemda tersebut senilai Rp. 45 miliar di BTPN pada 2007-2008.

“Insentif tersebut dibayarkan secara tunai,” kata Mantan pegawai Bank Tabungan Pensiun Nasional (BTPN) tersebut.

Selanjutnya, pada akhir 2008, kebijakan pemberian insentif tersebut dihentikan. “Namun, oknum pejabat di Pemkot Semarang tetap menuntut pemberian insentif tersebut dengan ancaman akan menarik dana yang tersimpan di BTPN,” paparnya.

Diah mengaku menyetujui untuk tetap memberi insentif kepada oknum pejabat pemkot tersebut.

Menurut dia, inisiatif yang disampaikan oleh Kepala UPTD Kasda saat itu, Dodi Kristanto, yakni dengan menggunakan uang setoran rutin pemkot, diluar dana Rp. 45 miliar yang tersimpan.

“Jadi uang yang akan disetor oleh pemkot untuk disimpan ini yang dibagi-bagikan,” katanya.

Sementara, atas setoran tersebut Diah membuat bukti setoran palsu untuk dilaporkan.

Total dana kasda yang dibagi-bagikan dan tidak masuk dalam sistem pencatatan BTPN tersebut mencapai sekitar Rp. 22 miliar.

“Saya tidak mau merugikan BTPN, selain itu duit itu dari pemkot juga kembali ke orang pemkot. Saya tidak mau merugikan BTPN, selain itu duit itu dari pemkot juga kembali ke orang pemkot,” katanya seperti dikutip melalui Antara.

Dalam kesaksiannya, Diah juga mengungkapkan nama Wali Kota Sukawi Sutarip, Soemarmo, hingga Hendrar Prihadi yang diduga menerima aliran dana tersebut.

Diah mengaku bisa memiliki hubungan dengan para orang nomor satu di Kota Semarang tersebut atas perantara mantan suaminya Ardana Arifianto.

Untuk Wali Kota Soemarmo, kata dia, pemberian uang dilakukan melalui anaknya yang bernama Febri.

Dalam kesaksiannya, Diah juga menegaskan jika para oknum pejabat di Pemkot Semarang tersebut juga menyadari bahwa uang yang dibagi-bagi tersebut bukanlah “fee” resmi yang justru berasal dari pemkot sendiri. (Bj)