Kasus BRT Semarang, Penemuan 4 Apar Dilaporkan ke Reskrim 

Walikota Semarang Hendrar Prihadi mengecek kondisi BRT Semarang.
** Diduga Berkaitan dengan Ban Hilang BRT Semarang
         Semarang, 20/4 (BeritaJateng.net) – Dinas Perhubungan Kota Semarang melaporkan temuan alat pemadam api ringan (APAR) kepada Reskrim Polrestabes Semarang, Kamis (20/4). Diduga, empat APAR yang hilang, juga berkaitan dengan  kasus hilangnya 32 ban serep BRT Trans Semarang yang dilaporkan Januari lalu.
         Empat Apar yang hilang ditemukan oleh petugas kebersihan Terminal Mangkang, ketika merapikan rumput di lingkungan Terminal Mangkang, Kamis (20/4). Penemuan dilaporkan ke Staf PT Mahesa bernama Supriyanto dan diteruskan ke Direktur PT Mahesa, Tatang, selaku operator Koridor I.
         ”Sekitar pukul 13.44 wib, Manajer Operasional Trans Semarang, Mulyadi mendapat telpon dari Direktur PT Mahesa, Tatang. Untuk memastikan, kami langsung datang ke lokasi,” ujar Kasubag Tata Usaha BLU BRT Tras Semarang, Ade Bhakti.
         Sesuai dengan arahan Reskrim Polrestabes Semarang, setelah dipotret, empat tabung APAR dipindahkan oleh Supriyadi dari lokasi penemuan ke Kantor PT Mahesa di lingkungan Terminal Mangkang. Pemindahan dilakukan dengan menggunakan plastik, agar sidik jadi tidak bertambah.
         ”Setelah dicek, segel empat APAR sudah terlepas semua. Tekanan tabung juga sudah tidak ada, atau isi tabung sudah kosong. Saat itu juga, kami laporkan ke Reskrim Polrestabes, selaku pihaj yang menangangi kasus berkaitan dengan 32 ban serep BRT yang hilang, beberapa waktu lalu,” imbuh Ade.
         Sebelumnya, pada Januari lalu, Dishub juga telah melaporkan hilangnya 32 ban serep BRT yang hilang dengan total kerugian Rp 140 juta. BRT tersebut terpakir di lingkungan Terminal Mangkang. Saat pengecekan, kondisi ruangan beberapa bus juga juga kotor dan berantakan.
         Kotornya kondisi dalam bus karena APAR disemprotkan di dalam. Terihat masih adanya sisa ceceran busa.
         Saat itu, empat APAR yang seharusnya berada di dalam bus, juga tidak ada. Setelah tiga bulan berselang, empat APAR tersebut akhirnya ditemukan.
          ”Kami menduga ada pihak yang tidak bertanggung jawab ingin menyabotase operasional BRT Koridor I yang saat itu sudah akan berjalan. Karenanya, kami laporkan hal ini kepada pihak yang berwajib agar ditindaklanjuti,” sambung Ade.
         Saat ini, pihak kepolisian juga tengah menyelidiki dugaan korupsi, terkait adanya sewa menyewa delapan unit BRT yang belum saatnya berpoerasi di trayek dua koridor selama du bulan antara Mei hingga Desember 2016. Bus tersebut disewakan secara ilegal ke pihak swasta dengan tarif Rp 200 juta. (El)

Tulis Komentar Pertama