Home Ekbis Karya Seni Artistik Bernilai Jual Tinggi dari Limbah Onderdil Bekas

Karya Seni Artistik Bernilai Jual Tinggi dari Limbah Onderdil Bekas

242
Salah satu karya artistik motor Harley milik Indaryanto di Galeri Lilo Art.

Semarang, 19/10 (BeritaJateng.net) – Miniatur robot, motor hingga gundam berjajar rapi dan artistik di meja dan etalase. Siapa sangka, karya tersebut terbuat dari limbah onderdil motor dan mobil bekas yang dirangkai sedemikian rupa.

Indaryanto, pemilik galeri Lilo Art yang terletak di Jl Anjasmoro Tengah VI No 48 Semarang ini telah puluhan tahun menggantungkan hidupnya dengan membuat karya artistik dan bernilai jual tinggi tersebut.

Berbagai limbah onderdil motor dan mobil yang tampak berserakan di galeri miliknya disulap oleh bapak dua anak kelahiran Semarang, 27 Mei 1976 ini menjadi robot dan miniatur motor antik.

Awalnya, berbagai barang bekas tak berguna yang dikumpukan dari bengkel terdekat tersebut tak berbentuk. Berbekal  “senjata” solder dan obeng, Indaryanto fokus merangkai barang-barang tersebut.

Ia tampak serius memegang solder dan obeng. Di depannya, ada kampas rem bekas, gir hingga bearing. Tak lebih dari 10 menit, jadilah asbak yang terbuat dari bel sepeda dan besi serta baut bekas.

“Dengan keterbatasan ekonomi, saya berpikir. Bagaimana memanfaatkan barang seadanya agar bisa menghasilkan uang. Berangkat dari hobi dan kesenangan semata. Saya memulai semuanya dari nol. Saya kan hanya lulusan SMP,” ujar Indaryanto.

Indaryanto menambahkan bahwa sebelum menggeluti kerajinan dari onderdil bekas ini, ia pernah bekerja di bengkel cat mobil, hingga buka sablon, namun usahanya tak ada yang berhasil. “Tahun 2009 mulai merintis, awalnya saya mengolah limbah apapun barang yang saya temui di alam, seperti kerikil, batu alam, hingga plastik dan botol minuman bekas,” ujarnya.

Pemilik Galeri Lilo Art, Indaryanto menunjukkan hasil karyanya.

Selama ini, pemilik workshop Lilo Art & Craft ini menjual hasil kerajinannya mulai dari Rp25 ribu sampai Rp2 juta. Berbagai hasil karyanya antara lain miniatur motor Harley Davidson, robot Transformer dan sepeda. Hampir tiap hari galeri workshopnya dikunjungi orang yang ingin membeli produknya. Ada yang pesan model khusus dan ada yang membeli yang sudah ada di display.

Ditanya soal omzet, Mas Ind menyatakan sudah lebih dari cukup untuk menghidupi keluarganya. Bahkan, di masa pandemi Covid-19 ini, juga tidak berpengaruh terhadap usahanya.

“Saya tidak ngoyo, yang penting ikhtiar. Bukankah burung-burung di udara, bunga-bunga di padang liar bisa tetap hidup. Apalagi kita, manusia ciptaan-Nya,” katanya berfilosofi.

Meski kini sudah cukup banyak dikenal, namun memulai usaha kerajinan dari barang bekas ini ternyata tidak mudah. Jatuh bangun hingga kesulitan finansial sudah dialami.

Hasil bekerja di bengkel memeras keringat seharian penuh selalu tak tersisa untuk kebutuhan sehari-hari. Terlebih, bengkel belum tentu selalu ada konsumennya.

Kini, usaha kerajinan limbah dari barang bekas ini sudah banyak dikenal. Apalagi, sejak mendapat kucuran permodalan dari program kemitraan Pertamina bagi usaha mikro, kecil dan menengah khususnya di wilayah Marketing Operation Region IV Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.

Mas Ind mengaku sudah dua tahun ini menjadi mitra UKM Binaan Pertamina. Selain bantuan permodalan, ia juga diikutkan ke beberapa pameran di Semarang, Yogyakarta dan Jakarta. Dari pameran inilah, semakin banyak produk kerajinannya dikenal.

“Banyak manfaat yang saya rasakan sebagai mitra binaan Pertamina, di antaranya adalah kemudahan dalam mendapatkan pinjaman lunak, sehingga memudahkan kami untuk mengembangkan usaha,” jelasnya.

Seperti diketahui, melalui program kemitraan PT Pertamina merealisasikan program tersebut dengan memberikan bantuan kemitraan terhadap pelaku usaha mikro, kecil dan menengah khususnya di wilayah Marketing Operation Region IV Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.

Sesuai dengan yang diamanatkan Kementerian BUMN pada Peraturan Menteri BUMN PER-02/MBU/04/2020 tanggal 2 April 2020 tentang PKBL.

Hingga Agustus 2020 Pertamina melalui MOR IV berhasil merealisasikan Program Kemitraan kepada UMKM sebesar Rp13.130.000.000 dan menargetkan realisasi penyaluran  Rp18 miliar hingga akhir tahun 2020.

Terhitung sejak Januari hingga Agustus 2020 sebanyak 174 mitra binaan UMKM dengan Program Kemitraan Pertamina khusus wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta telah tergabung dalam program ini.

Selain membantu meningkatkan kemandirian dan pengembangan usaha, program kemitraan diselenggarakan sebagai upaya merangkul pelaku UMKM terutama yang sulit mendapatkan akses ke perbankan (non bankable), tujuannya untuk meningkatkan kemandirian dan pengembangan usaha para pelaku UMKM. (El)