Kanibal Sumanto pun Hafal Pancasila

Kanibal Sumanto pun Hafal Pancasila
            Purbalingga, 1/6 (BeritaJateng.net) – Masih Ingat Sumanto? Lelaki yang sempat membuat geger karena memakan daging manusia pada awal tahun 2003. Kini Sumanto yang keluar dari hukuman penjara tahun 2006 silam, masih setia tinggal di pondok rehabilitasi mental An-Nur di Desa Bungkanel, Kecamatan Karanganyar, Purbalingga. Pondok itu diasuh oleh KH Supono Mustajab yang sekaligus membimbing Sumanto mengisi hari-harinya.
             Meski pernah membuat geger karena hal negatif, namun Sumanto sempat menginspirasi Bupati Purbalingga saat itu Triyono Budi Sasongko, mencetuskan  program PSPR Gakin (Program Stimulan Pemugaran Rumah Keluarga Miskin). Rumah orang tua Sumanto yang berada di Desa Palumutan, Kecamatan Kemangkon, Purbalingga, sangat memprihatinkan, beralasakan tanah dan berdinding bambu yang sudah rusak. Dan ternyata, rumah serupa milik orang tua Sumanto juga banyak di Purbalingga ketika itu. Akhirnya dicetuskan melakukan pendataan rumah tidak layak huni itu dan membangunnya dengan program stimulan.
             Iwan, salah satu karyawan Pondok An Nur mengungkapkan, Sumanto sebenarnya orangnya cerdas, namun terkandang senang berbicara ngelantur yang tidak jelas. Namun, ketika diminta menghafalkan Pancasila, meski tidak sempurna betul, Sumanto ternyata bisa. Penyebutan urutan sila dalam Pancasila itu terkadang terbalik, namun setelah diluruskan, mau juga.
            “Daya ingat Sumanto sebetulnya lumayan kuat. Ia bisa menghafalkan hal-hal tertentu, tapi ada syaratnya. Biasanya dia minta uang Rp 15 ribu untuk membeli rokok,” tutur Iwan, yang ditemuai disela-sela kunjungan Bupati Purbalingga Tasdi, SH, MM dan Wakil Bupati Dyah Hayuning Pratiwi, SE.B.Econ ke pondok itu, Kamis (1/6).
              Iwan menuturkan, saat bulan puasa ini,  puasa Sumanto tidak rutin. Kadang puasa, kadang tidak. Jika ada pedagang siomay lewat, malah dipanggil. “Sumanto bisa habis sampai empat piring. Ngaconya, setelah makan, Sumanto langsung tertidur dan tidak membayarnya. Pedagang siomay itu harus menunggu sampai berjam-jam. Ketika Sumanto bangun dan tidak memberikan uang akhirnya pedagang siomay itu menagih bayaran pembelian siomay ke pengasuh pondok KH Supono,” kata Iwan.
             Dalam hal pergaulan, Sumanto yang saat ini masih ditempatkan pada kamar dan halaman yang terpagar, pernah meminta untuk pergi berjalan-jalan di sekitar pondok. Pihak pengasuh sebenarnya tidak memperbolehkan untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. “Ketika diijinkan keluar, ternyata Sumanto mendatangi warung dan mengambil satu bungkus besar kacang, satu bungkus besar roti kering, berbagai macam rokok. Jika ditotal harganya mencapai Rp 600 ribu. Lagi-lagi, Sumanto tak mau membayar, dan pemilik warung akhirnya menagih ke pak Kyi (Kyai Sopono),” ujar Iwan.
            Iwan juga mengungkapkan, Sumanto sering diajak mengikuti pengajian di luar kota oleh KH Supono. Saat pengajian, Sumanto juga diberikan kesempatan memberikan wejangan. “Wejangannya bagus, Sumanto meminta peserta pengajian untuk menyumbang uang guna pembangunan mesjid. Sumbangan ya jangan Rp 2.000,’ kaya membayar orang kencing di terminal. Paling tidak ya Rp 20 ribu, syukur Rp 50 ribu atau Rp 100 ribu,” tutur Iwan menirukan ucapan Sumanto saat mengisi pengajian.
             Uniknya, Sumanto yang menerima honor dalam amplop tersendiri, begitu pulang uang di amplop itu tidak langsung diambil, tetapi malah amplop dan uang yang masih didalamnya dicuci. “Amplopnya dicuci hingga basah, setelah itu uangnya dijemur dan amplopnya dibuang. Uang yang dijemur itu pernah juga kabur terbawa angin, namun Sumanto tidak mempedulikannya,” tutur Iwan. (yit/el)

Tulis Komentar Pertama