Home Ekbis Kain Lukis Nasrafa, UKM yang Sukses Pasarkan Produk Hingga Mancanegara

Kain Lukis Nasrafa, UKM yang Sukses Pasarkan Produk Hingga Mancanegara

387
0
Owner Usaha Kain Lukis Nasrafa menunjukkan jaket kulit lukis produksi yang dipesan oleh Turis asal Kanada.
       Surakarta, 28/4 (BeritaJateng.net) – Kain lukis Nasrafa, salah satu Usaha Kecil Menengah binaan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa tengah yang terbilang sukses berdiri ditengah arus globalisasi, bahkan UKM ini berhasil membukukan laba hingga Rp. 80 juta perbulan.
       Berlokasi di Jalan Asem Kembar Nomor 83 Kecacil, Jebres, Surakarta, UKM kain lukis Nasrafa berhasil memasarkan produknya hingga mancanegara ke berbagai belahan dunia, seperti Singapur, Kanada, Amerika hingga Perancis.
        Ditemui perwakilan Dinas Koperasi dan UKM (Dinkop UKM) Jateng di galerinya, Yani Mardianto Owner Nasrafa memperlihatkan hasil produksi kreasi kain lukis berbentuk payung, jilbab, gaun, payung, tas dan jaket kulit lukis.
        Ia menceritakan bahwa usaha kain lukis Nasrafa berdiri sejak tahun 2011 yang dimulai dari kegiatan Karangtaruna.  “Lalu kain lukis ini berdiri secara legal pada 2012. Saya mempunyai modal awal Rp 12 juta. Setelah berdiskusi dengan keluarga, akhirnya kami putuskan namanya Nasrafa,” ujarnya.
       Nama Nasrafa, menurut Yani, diambil dari singkatan nama ketiga buah hatinya, yakni Nasywa, Rafi dan Fadhil. Ia membutuhkan waktu hingga 3 tahun untuk mematenkan merk tersebut. “Awal usaha, dengan modal pas-pasan saya beli bahan baku kain jilbab, dan rak untuk pameran, saya suka kalau ada pameran-pameran, bukan untuk cari laba saja tapi yang paling penting adalah promosi produk. Makanya, saat difasilitasi pemerintah untuk pameran saya senang sekali,” katanya.
Galeri produksi kain lukis Nasrafa, para pekerja melukis jilbab dan payung yang dipesan customer.

Dengan usahanya, kini pria berusia 51 tahun ini berhasil membuka galery dan mempekerjakan 5 karyawan. “Mereka (karyawan,Red) orang-orang tangguh, walaupun bukan pelukis, tapi mereka otodidak belajar melukis dan menghasilkan karya yang indah,” katanya.

        Harga yang dipatok untuk produknya sangat bervariasi, seperti Jilbab, ia menjualnya Rp. 50ribu perbuah, payung Rp 200 ribu, tas Rp 250 ribu, baju setelah Rp 350 ribu dan long dress yang dihargai Rp 400 ribu. “Untuk omset per bulan saat ini Rp 60-80 juta,” urai dia.
       Produk Nasrafa pun sudah sampai keluar negeri dan dipesan dari berbagai negara. “Ada dari Kanada yang pesan jaket kulit lukis 200 pack, bahkan berani membayar 200 dollar untuk satu jaketnya,” imbuh Yani.
        Usaha Nasrafa sendiri, selalu mendapat penghargaan. Di antaranya masuk 15 besar produk inovatif nasional pada 2015, lalu 2016 menyabet penghargaan Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag RI. Lalu pada 2017 lalu mendapat penghargaan sebagai UKM terkreatif nasional mewakili Jateng yang diselenggarakan Dinkop UKM Jabar. “Terakhir kami raih prestasi the most Indonesian Leadership Figure Award 2018 yang akan digelar 29 April mendatang oleh Yayasan Anugerah,” paparnya.
Para pekerja Nasrafa melukis produk pesanan costumer.

Tingkatkan Kualitas UKM dengan Latih Pendamping Bisnis KUMKM

       Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa tengah memang terus mengembangkan dan mempromosikan UKM untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Salah satu yang dilakukan untuk membentuk UKM kualitas baik adalah karena pendamping UKM atau konsultan yang berkompeten.
       Agar UKM bisa berkembang dengan baik, dibutuhkan konsultan pendamping bisnis UKM yang mumpuni dan berkompeten. Untuk itu, Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jateng menggelar pelatihan 50 konsultan agar lebih kompeten.
        Ditemui di Surakarta, Kasi Restrukturisasi Usaha Dinkop UKM Provinsi Jawa tengah, Eni Purbowati mengatakan, kegiatan pendampingan UMKM ini sangat berpengaruh bagi kemajuan UMKM.
         Menurutnya, UMKM sangat memerlukan konsultan, dalam perkembangannya. Konsultan ini belum tentu berkompetensi. Sehingga perlu pelatihan-pelatihan berstandar Nasional Indonesia. “Kita mulai pelatihan sejak 3 bulan lalu dan setelah lebaran akan dilakukan uji kompetensi,” kata Eni.
         Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) digunakan sebagai acuan bagi Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dalam melaksanakan pelatihan dan uji kompetensi pengembangan karir pendamping UMKM.
         “Dengan adanya Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia bagi Pendamping UMKM menjadi acuan dalam mengembangkan program kursus dan pelatihan, melakukan rekruitmen, menyusun uraian jabatan pendamping UMKM, mengembangkan program pelatihan dalam jabatan (inservice training), dan melaksanakan pelatihan prajabatan (pre-service training) yang spesifik berdasarkan kebutuhan sektor UMKM,” katanya.
         Standar tersebut juga akan menjadi acuan dalam merumuskan paket program sertifikasi sesuai dengan kualifikasi dan levelnya, penyelenggaraan pelatihan, dan penilaian. “Ini juga menjadi salah satu acuan dalam penyusunan standar kompetensi pendamping UMKM,” katanya. (El)