Home Nasional Juliari : Masyarakat Pintar Itu Yang Memiliki Karakter Berbangsa dan Moralitas

Juliari : Masyarakat Pintar Itu Yang Memiliki Karakter Berbangsa dan Moralitas

Semarang, 23/11 (BeritaJateng.net) – Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Juliari P Batubara menegaskan orang yang pintar, tetapi tidak memiliki karakter berbangsa adalah percuma.

“‘Pinter’, namun tidak punya karakter dan moralitas sesuai dengan empat pilar kebangsaan, tidak ada gunanya,” katanya di sela “Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan” di SMA Negeri 1 Semarang, Minggu.

Menurut politikus PDI Perjuangan itu, masyarakat semuanya memiliki hutang kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang harus dibayar dengan cara berkontribusi bagi bangsa.

Hutang itu, kata dia, tidak bisa dibayar dengan uang, tetapi dengan memberikan kontribusi dan berguna bagi bangsa dan negara dalam berbagai bidang kehidupan, terutama kalangan anak muda.

“Kita hidup di Indonesia. Yang namanya utang itu, harus dibayar. Cara membayarnya bagaimana? Ya, bagaimana berguna bagi bangsa dan negara,” kata anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah I itu.

Anggota DPR RI Juliari P. Batubara menyerahkan kenang-kenangan usai mengisi seminar empat pilar kebangsaan di SMA N1 Semarang

Ari, sapaan akrab Juliari mengatakan ada banyak bidang kehidupan yang bisa disumbangkan kontribusinya oleh generasi muda, seperti bidang olahraga, organisasi, kebudayaan, dan teknologi.

Ia mengatakan hutang itu harus dibayar dengan prestasi, namun jangan secara sempit diartikan hanya pintar secara akademis karena akan percuma tanpa adanya bekal karakter dan moralitas kebangsaan.

“Bagaimana jadi pintar itu gampang, yakni dengan belajar. Namun, bagaimana itu disertai dengan kesadaran berbangsa yang memiliki cara hidup sesuai dengan empat pilar kebangsaan,” katanya.

Pancasila sebagai pilar utamanya, kata dia, harus menjadi landasan karakter kebangsaan, sebagaimana dimiliki Jepang dan Korea yang mampu bangkit dari keterpurukan dan sekarang ini menjadi negara maju.

“Ingat pengeboman Kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang. Semuanya hancur lebur. Namun, mereka mampu membuktikan bahwa jiwa dan semangat mereka tidak kalah dengan kedahsyatan bom atom,” pungkasnya.

Sementara itu, budayawan St Sukirno mengatakan jangan pernah merasa Pancasila hanya karena sekali mengikuti sosialisasi empat pilar kebangsaan, sebab tanpa kemauan dan upaya akan sia-sia.

“Sebagai contoh, apakah pasti menjadi dalang itu karena anak seorang dalang? Belum tentu. Banyak anak dalang yang tidak bisa ‘ndalang’, namun ada yang bukan anak dalang justru mahir ‘ndalang’,” katanya.

Artinya, kata mantan Rektor Universitas 17 Agustus 1945 Semarang itu, harus ada kemauan, upaya, dan latihan secara berulang terhadap sesuatu agar bisa memahami, sama seperti Pancasila. (Bj)