Home Lintas Jateng Jateng Tak Luput dari Permainan Finansial kawasan Kars

Jateng Tak Luput dari Permainan Finansial kawasan Kars

image
seminar dan lokakarya "Laju Finansial Kawasan Karst secara Murah, Rakus dan Tidak Memperhatikan Keadilan Ekologis", Senin (22/12).

SEMARANG,22/12 (Beritajateng.net)-Direktur Walhi Jateng, Ning Fitri  mengatakan, Jawa Tengah tidak luput dari permainan finansialisasi kawasan lingkungan secara murah, masif dan terstruktur. Perspektif Karst sudah dipandang sebagai ladang uang untuk berbagai kepentingan.

Ia menambahkan, mudahnya kepala daerah, gubernur, bupati atau walikota memberikan kuasanya menerbitkan surat ijin pertunjukan industrial mengancam kawasan Lindung geologi dan krisis ekologis.

Menurutnya, ancaman yang sangat masif terjadi pada penambangan karst di beberapa daerah seperti karst nusa kambangan,  aji barang, karst gombong, pegunungan sewu, karst sukolilo di pegunungan kapur utara dll.

Peserta yang hadir kali ini wajib merenung tentang kerentanan peetambangan di Indonesia, lanjutnya, potensi ketersediaan bahan baku semen di Jawa Tengah mulai dari batu gamping 168.963juta ton, tanah liat 38.003juta ton, pasir kuarsa sebanyak 25.899 juta ton, gypsum 120.000ton dan pasir besi sebanyak 16juta ton yang tersebar di beberapa kabupaten di Jawa Tengah memang dapat dimanfaatkan, namun tidak untuk di eksploitasi.

Menurutnya, pembangunan kita justru telah merusak dan merubah marfologi, merubah volume reservoir, merubah sistem kekar, merubah sistem sungai bawah tanah, merubah tanah penutup,  merubah vegetasi serta aset-aset sumberdaya lain.

Rasyid aktifis yang bergerak dilingkungan Karst mengatakan, kawasan karst punya banyak potensi namun banyak pula potensi yang di rusak. seperti yang potensi air. “Sepertiga air jernih di bumi itu dari karst, sehingga bila hilang maka sumber mata air juga hilang,” ujarnya, saat seminar dan lokakarya “Laju Finansial Kawasan Karst secara Murah, Rakus dan Tidak Memperhatikan Keadilan Ekologis”, Senin (22/12).

Rasyid menambahkan, ajakan peduli lingkungan semacam ini nantinya tidak hanya di berikan kepada akademisi,  aktifis dan mahasiswa saja. Namun mencakup masyarakat luas agar memahami pentingnya ekologi dan adanya Karst di Indonesia. (Ely/ss)