Home News Update Jaringan Jurnalis Perempuan Gelar Pelatihan Bela Diri

Jaringan Jurnalis Perempuan Gelar Pelatihan Bela Diri

Bela Diri

Semarang, 31/10 (BeritaJateng.net) – Maraknya kekerasan pada anak-anak, Jaringan Jurnalis Perempuan Jawa Tengah menggelar pelatihan bela diri terhadap ratusan siswa Sekolah Dasar. Ratusan siswa siswi Sekolah Dasar Negeri Srondol Wetan 04 Semarang ini, sangat antusias, ketika seorang atlet cabang pencak silat memberikan jurus jurus bagaimana melawan orang jahat.

Jurus jurus melawan orang jahat ini diberikan pada siswa siswi kelas 4,5 dan 6 SD Srondol Wetan 04. Hal terkait makin maraknya kekerasan dan kejahatan seksual pada anak-anak, yang belakangan ini marak terjadi.

Dalam kesempatan tersebut, Heri Mustofa, seorang instruktur pencak silat memberikan kunci atau tehnik tehnik dasar melawan orang jahat dan menyelamatkan diri, ketika berada dalam keadaan darurat.

“Jurus-jurus ini hanya dilakukan pada orang yang tak dikenal ya. Jangan dilakukan pada teman sendiri ya”, pesannya kepada siswa.

Bukan hanya itu, Heri juga memberikan simulasi ketika sang anak berada dalam kondisi darurat seperti akan diperlakukan pelecehan seksual. Simulasi ini langsung disambut antusias oleh para siswa. Secara bergantian para siswa mencoba gerakan gerakan atau jurus jurus menyelamatkan diri dari cengkraman tangan orang tak dikenal atau orang jahat.

“Ayo, siapa yang mau coba”, ujarnya yag disambut acungan tangan dari para siswa.

Menurut Heri, cukup dengan teknik dasar ketahanan, sebenarnya anak-anak bisa melakukan perlawanan pertama yang membuatnya terhindar dari ancaman kejahatan fisik.Ketika sejumlah gerakan disimulasikan, terbukti anak-anak mampu melakukannya dengan baik.

Ketua Jaringan Jurnalis Perempuan Jawa Tengah, Rita Hidayati mengungkapkan pembekalan dan simulasi kampanye yang dilaksanakan di sekolah dasar tersebut, bertujuan untuk memberikan edukasi kepada anak, yang rentan menjadi korban kejahatan.

“Kejahatan bisa mengintai mereka setiap saat, jika mereka diberikan jurus jurus melawan orang jahat, Insya Allah mereka bisa lepas”, ujarnya disela sela acara.

Berdasarkan data yang dirangkum Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) selama tahun 2015, jumlah anak yang menjadi korban kekerasan tercatat sebanyak 2.000 orang, dengan 1.570 anak menjadi korban kekerasan seksual.

“Angka ini membuktikan tingginya kekerasan yang dilakukan terhadap anak, yang sebagian besar menjadi korban kekerasan seksual”, tambahnya.

Sementara itu, pihak sekolah mengaku senang dengan pengetahuan dan simulasi yang digelar tersebut.

“Karena ilmu yang diberikan bisa diaplikasikan oleh siswa menghadapi kejahatan yang bisa mengintai mereka setiap saat”, ujar guru kelas 5, Kurnia Sukowijayanti.

Seorang siswa kelas 6, Raffi Irwansyah mengaku, kegiatan tersebut dirasa sangat berguna bagi dirinya dan teman temannya.

“Simulasi tadi sangat berguna bagi saya. Saya senang, karena bisa menggunakannya saat terdesak”, ujarnya.

Diharapkan, kegiatan serupa bisa digelar disekolah sekolah lain sehingga ancaman kekerasan atau kejahatan terhadap anak bisa dihindarkan. (BJ)