Home News Update Ita : Perlu Standarisasi dan Pemetaan Pelayanan Kesehatan di Posyandu 

Ita : Perlu Standarisasi dan Pemetaan Pelayanan Kesehatan di Posyandu 

 

IMG_9828

Semarang, 27/9 (BeritaJateng.net) – Calon wakil wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu yang akrab disapa Ita menilai perlu standardisasi pelayanan pos pelayanan terpadu untuk pemerataan kesehatan.

Mbak Ita, sapaan akrab Heveraita Gunaryanti Rahayu mengatakan jika posyandu menjadi pintu gerbang jajaran kedepan dalam hal kesehatan. Disitu dengan berbagai kegiatan ibu-ibu sebagai awal kegiatan lansia dan anak-anak.

“Posyandu di Kota Semarang memang sudah ada, sekitar 1.560 unit. Namun, standarnya kan tidak merata,” katanya saat bertemu relawan penggerak “Semarang Hebat” Kecamatan Gayamsari, Semarang.

Pasangan Hendrar Prihadi alias Hendi yang diusung tiga partai politik, yakni PDI Perjuangan, Partai Nasdem, dan Demokrat menjelaskan, ada posyandu-posyandu yang pelayanannya sangat baik, fasilitas lengkap, dan keberlangsungan kegiatannya optimal, seperti posyandu di Ngaliyan yang mendapatkan juara nasional.

“Namun, kan tidak semuanya seperti itu. Masih banyak posyandu-posyandu yang ‘mati suri’, tempatnya sudah ada, namun kegiatannya tidak ada. Ya, karena posyandu ini kan sifatnya mandiri,” katanya.

Sebagai calon wakil walikota dari perempuan, Mbak Ita tahu betul akan kesehatan ibu dan anak. Adanya ketimpangan akan kondisi posyandu menjadi masalah penanganan serius terhadap generasi muda yang akan datang.

“Perlu ada standarisasi posyandu agar tak terjadi ketimpangan pelayanan kesehatan antar satu posyandu dengan posyandu lainnya,” katanya.

Di lingkungan masyarakat yang ekonominya cukup, kata dia, posyandu akan mendapatkan dukungan yang baik, namun di wilayah-wilayah yang masyarakatnya kekurangan tentu dukungannya tidak sebagus itu.

Makanya, ia mengatakan akan melakukan “mapping” (pemetaan) keberadaan posyandu-posyandu di Kota Semarang, terutama yang standar pelayannya bagus agar bisa menjadi contoh bagi posyandu yang lain.

“Diakui memang kendalanya pada dana. Posyandu itu kan tidak hanya butuh alat, misalnya ibu-ibu kader posyandu harus menyediakan kacang hijau bagi balita, bubur bagi kalangan lansia,” katanya.

Dengan pemetaan itu, kata dia, posyandu-posyandu yang selama ini “mati suri” atau kurang optimal pelayanannya akan dibantu dengan alokasi pendanaan khusus dari Pemerintah Kota Semarang.

“Jika saya terpilih, saya akan prioritaskan pengembangan dan pemberdayaan kaum perempuan. Apalagi, saya satu-satunya calon perempuan pada Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang,” katanya.

Peran kaum perempuan dan ibu-ibu, tegas Ita, sangat penting sebagai pintu gerbang atau jajaran depan dalam jaminan kesehatan keluarga, termasuk menjaga keberlangsungan posyandu di wilayahnya. (Bj05)