Home News Update Ita Berkomitmen Kembangkan Potensi Mangrove Di Kawasan Pesisir 

Ita Berkomitmen Kembangkan Potensi Mangrove Di Kawasan Pesisir 

calon wakil wali kota Semarang Hevearita Gunaryanti atau yang akrab disapa ita melihat secara langsung olahan tanaman mangrove atau tanaman bakau menjadi berbagai olahan makanan hingga pewarna batik alami di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Ssmarang.
calon wakil wali kota Semarang Hevearita Gunaryanti atau yang akrab disapa ita melihat secara langsung olahan tanaman mangrove atau tanaman bakau menjadi berbagai olahan makanan hingga pewarna batik alami di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Ssmarang.
calon wakil wali kota Semarang Hevearita Gunaryanti atau yang akrab disapa ita melihat secara langsung olahan tanaman mangrove atau tanaman bakau menjadi berbagai olahan makanan hingga pewarna batik alami di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Ssmarang.

Semarang, 11/9 (BeritaJateng.net) – Calon wakil wali kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu berkomitmen memberdayakan dan mengembangkan potensi “mangrove” atau tanaman bakau yang ada di kawasan pesisir kota Semarang.

“Banyak sekali potensi dari mangrove ini, mulai penahan abrasi, bisa diolah jadi aneka makanan, hingga diolah jadi pewarna batik,” ujar Ita usai penanaman mangrove dan cemara pantai di Mangunharjo Mamgkang, Kamis (10/9).

Ita yang juga merupakan Sarjana Pertanian lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran ini mengakui potensi mangrove belum dimaksimalkan, terutama hasil olahannya yang sebenarnya memiliki nilai ekonomi tinggi bagi para petani, seperti diolah menjadi kerupuk, sirup, keripik, hingga es cendol.

“Saya tadi lihat sendiri bagaimana masyarakat di sini (Mangkang, red.) kreatif mengolah ‘mangrove’ menjadi berbagai olahan pangan yang lezat. Cuma, pengemasan dan pemasarannya saja yang memang masih kurang,” kata calon wakil wali kota yang diusung partai PDI Perjuangan, Partai Demokrat dan Partai Nasional Demokrasi (Nasdem) ini.

Makanya, kata dia, jika dirinya terpilih sebagai wakil wali kota akan melakukan pengembangan potensi “mangrove”, terutama pemasaran yang akan difasilitasi oleh Pemerintah Kota Semarang.

Selama ini, ia mengatakan toko-toko jajanan dan oleh-oleh khas Semarang justru tidak menjual produk-produk olahan “mangrove” dari masyarakat Mangkang, melainkan justru makanan dari daerah lain.

“Nanti, toko-toko oleh-oleh harus menjual makanan-makanan yang dikreasi warga lokal seperti ini. Sayang kalau pemasarannya tidak dikembangkan secara luas karena prospeknya menjanjikan,” kata Ita.

Hevearita atau yang akrab disapa Ita dan tim 'Hebat' menanan pohon mangrove dan cemara pantai di Mangunharjo, kecamatan Tugu, Ssmarang.
Hevearita atau yang akrab disapa Ita dan tim ‘Hebat’ menanan pohon mangrove dan cemara pantai di Mangunharjo, kecamatan Tugu, Ssmarang.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Kalisantren Mangkang Ali Imron mengatakan selama ini sudah mengolah “mangrove” menjadi berbagai produk bernilai jual, mulai beraneka makanan hingga batik.

“Anggota kelompok tani ini ada 40 orang yang semuanya memanfaatkan lahan tambak yang dimilikinya untuk ditanami ‘mangrove’. Ada yang 2 hektare, 3 ha, dan 6 ha. Luasan lahannya macam-macam,” katanya.

Produk-produk olahan “mangrove” itu selama ini justru lebih banyak diminati oleh masyarakat luar negeri, terutama batik karena menggunakan pewarna alami dari “mangrove”, bukan pewarna sintetis.

“Ya, setiap bulan ada kunjungan ke sini, dari mana saja. Ada yang dari luar kota maupun luar negeri. Kalau Bu Ita berniat membantu mengembangkan pemasarannya, kami sangat berterima kasih,” katanya. (Bj05)