Home DPRD Kota Semarang Ironis!!! Hanya Ada Empat Pos Pemadam Kebakaran Di Semarang

Ironis!!! Hanya Ada Empat Pos Pemadam Kebakaran Di Semarang

1823
Mobil pemadam kebakaran
Mobil pemadam kebakaran
Mobil pemadam kebakaran

Semarang, 4/9 (BeritaJateng.net) – Akhir-akhir ini banyak peristiwa kebakaran di Kota Semarang, bahkan dalam satu hari bisa dua sampai tiga titik kebakaran terjadi di berbagai wilayah. Namun ternyata hal tersebut belum diimbangi dengan maksimalnya jumlah fasilitas pemadam kebakaran yang ada. Dari 16 kecamatan di Kota Semarang, baru memiliki empat titik unit pos pemadam kebakaran.

“Kan baru ada di titik pos pusat Ronggolawe, Plamongan dan Banyumanik. Sedangkan nantinya akan menambah menjadi 8 pos pemadam kebakaran. Pinginnya kita tempatkan diantaranya wilayah Tugu Krapyak kawasan industri,” kata Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo.

Lanjutnya mengatakan, akan mendorong untuk membentuk satuan pelaksana pemadam kebakaran (satlakar) hingga tingkat RW. Sementara ini, baru terbentuk kurang dari 177 kelurahan yang di Kota Semarang dengan jumlah 8-11 orang.

“Satlakar itu kan kearah preventif. Tugas mereka yang kan menjadi pencegah terjadinya kebakaran, mereka bergerak pertama sambil menunggu unit mobil pemadam kebakaran datang. Maka kita sekarang lagi prihatin, dan menyicil membentuk satlakar yang nantinya membentuk kearah tingkat RW. Jadi idealnya setiap RW memiliki Satlakar,” terangnya.

Pihaknya juga mengakui, tahun 2015 sekarang ini juga akan menambah 8 unit mobil pemadam kebakaran yang dianggarkan melalui APBD 2015. Menurutnya, sedikitnya melihat kondisi di Kota Semarang membutuhkan minimal 2 unit pemadam kebakaran dimasing-masing kecamatan. Sedangkan idealnya, memerlukan kajian terkait jumlah kepadatan penduduk, geografi dan  jumlah tingkat kebakaran.

“Memang kalau nantinya menambah unit mobil pemadam kebakaran tentunya juga akan menambah operasional dan personil. Maka, nantinya kita akan membentuk Satlakar hingga ditingkat RW. Untuk mengantisipasi masalah respontime kebakaran dari pos induk ke tempat kejadian. Paling tidak 15 menit terjadinya kebakaran, air sudah ngocor,” ujarnya.

Menurutnya, sekarang ini potensi kebakaran yang terjadi di Kota Semarang didominiasi akibat konsleting arus listrik. Sehingga kepedulian masyarakat dalam mengantisipasi terjadinya kebakaran masih rendah. Padahal potensi kerugian akibat kebakaran sangat berdampak besar yang dapat merugikan kerugian harta benda maupun nyawa.

“Maka kita nantinya selain membentuk satlakar, juga akan mengusulkan pembuatan perda rencana induk proteksi kebakaran. Sehingga disitu ada model manajemen pemadam kebakaran, sehingga nantinya antara sumur dan damkar harus mudah jangkuannya dalam pengambilan air. Kita juga akan membedakan antara bencana dan kebakaran,” jelasnya. (Bj05)

Advertisements