Home Headline IPW Kecam Penyerangan Polisi di Kantor Polisi

IPW Kecam Penyerangan Polisi di Kantor Polisi

Ketua Presidium IPW Neta S Pane. Foto/Ist
Ketua Presidium IPW Neta S Pane. Foto/Ist
Ketua Presidium IPW Neta S Pane. Foto/Ist

Jakarta, 9/10 (BeritaJateng.net) – Mabes Polri harus berusaha keras menekan angka kejahatan polisi menyerang kantor polisi. Sebab jika aksi polisi menyerang dan merusak kantor polisi dibiarkan, hal ini bisa mengganggu situasi kamtibmas menjelang Pilkada Serentak Desember mendatang.

Ketua presidium Ind Police Watch (IPW) Neta S Pane mengecam keras peristiwa penyerangan dan perusakan kantor polisi yang dilakukan Brimob di Jalan Veteran, Kupang, NTT pada 7 Okt 2015 lalu.

“IPW mencatat penyerangan dan perusakan terhadap kantor polisi atau fasilitas kepolisian lainnya
terus menerus terjadi dan sepertinya sulit dihindari. Bahkan aksi penyerangan itu dilakukan oleh aparat kepolisian sendiri,” ujar Neta, Jumat.

Menurutnya, Kasus penyerangan terhadap kantor polisi di NTT ini adalah kasus ke-11 di tahun 2015 ini. Sepanjang tahun 2015 ada dua peristiwa penyerangan kantor polisi yang dilakukan oleh Brimob.

Sebelumnya pada 28 Mei 2015 aparat brimob juga menyerang kantor Mapolres Bima Kota, NTB. Saat itu
puluhan anggota Brimob marah akibat dirazia polisi lalulintas.

“Ironis memang, sesama polisi kok tidak bisa menahan diri hingga
melakukan penyerangan. Peristiwa penyerangan yang dilakukan brimob
terhadap kantor polisi di NTT lebih parah lagi,” tambahnya.

Dari catatan IPW, Neta mengatakan, penyebabnya ada dua. Pertama, anggota brimob mabuk-mabukan dengan minuman keras. Kedua, polisi yang
melakukan razia terhadap brimob itu bersikap arogan, yakni memecahkan
botol-botol miras di depan anggota brimob yang notabene adalah kawan satu korpsnya.

“Sikap arogan polisi itu semakin menunjukkan bahwa sikap arogan sebagian anggota polisi semakin parah dan tidak terkendali. Sesama anggota polisi saja mereka masih mengedepankan sikap arogan dan
sok kuasa, bagaimana lagi dengan masyarakat biasa yang harus diayomi dan dilindunginya,” ujarnya.

Sikap arogan itu kemudian dibalas dengan sikap yang lebih arogan lagi dari anggota brimob, yang melakukan penyerbuan dan perusakan kantor polisi.

“Jika dalam melakukan tugasnya aparat kepolisian selalu mengedepankan arogansi, pantas saja jika kantor polisi makin sering diserang, dirusak dan dibakar massa, baik oleh masyarakat maupun oleh sesama anggota polisi,” tambahnya.

Lebih lanjut Neta mengatakan, Kasus di NTT ini menunjukkan betapa buruknya pembinaan dan pengawasan polisi jajaran bawah, sehingga mereka gampang kalap dan
tega-teganya merusak kantor institusinya sendiri.

“Sikap brutal ini tidak terlepas dari sikap para elit polri atau atasan mereka yang tidak peduli dengan fungsi pembinaan dan pengawasan terhadap bawahannya. Untuk itu kami mendesak polisi-polisi seperti ini yang lebih mengedepankan arogansi dan brutal seperti ini harus segera dipecat. Jika tidak, mereka akan menjadi monster dan predator baik bagi masyarakat maupun bagi institutinya,” terangnya lagi.

Tidak hanya itu, atasan mereka juga harus ditindak tegas. Artinya, jika ada kasus polisi menyerang polisi atau merusak kantor polisi, kapoldanya harus dicopot dari jabatannnya. Sebab kasus ini sangat memalukan institusi polri dan
sekaligus menunjukkan kapolda tersebut tdk mampu memimpin anak buahnya.

“Kasus polisi menyerang kantor polisi bisa menjadi gambaran bahwa
institusi Polri tidak solid. Jika Polri tidak solid, ini akan menjadi
masalah serius dalam menjaga keamanan di Pilkada Serentak. Untuk itu Mabes Polri perlu mencermati situasi ini agar Pilkada serentak
berjalan aman,” pungkas Neta. (BJ)