Home Hukum dan Kriminal IPW : Ironis, Jaksa Agung Sandera BW-Samad, Bareskrim Sandera Denny

IPW : Ironis, Jaksa Agung Sandera BW-Samad, Bareskrim Sandera Denny

Ilustrasi

Jakarta, 7/1 (BeritaJateng.net) – Profesionalisme Jaksa Agung patut dipertanyakan, sebab hingga saat ini berita acara pemeriksaan (BAP) mantan Ketua KPK Bambang Widjojanto (BW) dan Abraham Samad tak kunjung dilimpahkan ke pengadilan.

Begitu juga profesionalisme Bareskrim Polri patut dipertanyakan, karena kasus dugaan korupsi yang melibatkan mantan Wamen KumHAM Denny Indrayana tak kunjung dituntaskan untuk dilimpahkan ke kejaksaan.

Pernyataan ini disampaikan oleh Ketua Presidium Ind Police Watch, Neta S Pane melalui rilisnya.

Menurutnya, akibat tidak jelasnya sikap Jaksa Agung dan Bareskrim Polri ini, Ind Police Watch (IPW) melihat, nasib ketiga tokoh itu, yakni BW, Samad, dan Denny menjadi terkatung-katung dan tersandera.

IPW berharap Jaksa Agung bersikap tegas dalam memberi kepastian hukum kepada BW dan Samad. Segera limpahkan BAPnya ke pengadilan atau segera dihentikan kasusnya.

“Begitu juga dengan Bareskrim Polri perlu memberikan ketegasan, apakah kasus Denny Indrayana akan dilanjutkan atau tidak. Jika tidak¬†dilanjutkan, Bareskrim harus segera mengeluarkan SP3 untuk kasus itu,” katanya.

Sebelumnya Denny sudah dijadikan tersangka. Terakhir awal November 2015 Denny datang ke Bareskrim mempertanyakan tentang pengajuan 5 saksi ahli pakar hukum yang disampaikannya. Sejak itu kasus Denny tak ada kabar beritanya lagi. Apalagi setelah Kabareskrim Buwas dicopot dari jabatannya, kasus Denny seperti ditelan bumi.

Jaksa Agung dan Bareskrim harus menjelaskan kepada publik tentang perkembangan dan nasib kasus yang menyangkut ketiga tokoh itu.

“Penjelasan Jaksa Agung dan Bareskrim adalah sebuah penghargaan terhadap supremasi hukum dan kepastian hukum,” imbuhnya.

Meskipun banyak pihak yang bermanuver agar kasus itu  dihentikan, Jaksa Agung dan Bareskrim Polri harus bersikap profesional, cepat, dan tepat agar ketiga tokoh itu tidak tersandera dan publik tidak bertanya-tanya sampai kapan kasusnya dituntaskan. (Bj)