Home News Update IPNU-IPPNU Gelar Jambore Pelajar

IPNU-IPPNU Gelar Jambore Pelajar

— Nuansa Nasionalis di Jambore IPNU-IPPNU

SEMARANG, 27/12 (BeritaJateng.net) – Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Genuk menyelenggarakan Jambore Pelajar Nahdlatul Ulama (Jampenu) ke-4.

Bertempat di balai kelurahan Karangroto, acara digelar selama dua hari sabtu-minggu, 26-27 Desember 2015 diikuti seluruh perwakilan ranting IPNU-IPPNU se-kecamatan Genuk.

Jampenu yang ke-4 mengusung tema One Spirit One Dream, dengan menggelar beragam perlombaan dan aktifitas keilmuan maupun spiritual, Minggu (27/11).

Ketua IPNU Genuk Nurrohmat Arrizal mengatakan, sebagai kader NU, semua harus mampu membangun mimpi yang lebih baik untuk Indonesia dan tentunya mimpi tentang kedirian kita sebagai pelajar yang harus memiliki mimpi untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Kemeriahan jampenu terlihat dari gelaran lomba, lomba mars, dai, cerdas cermat, administrasi dan pentas seni. Kemeriahan nampak ketika perlombaan pentas seni yang menampilkan beragam seni yang ditampilkan oleh ranting-ranting IPNU-IPPNU yang mewakili, pentas seni tersebut meliputi drama, musikalisasi puisi, musik dan rebana.

Menurut Ketua Panita Jambore Muhammad Agus Salim, kader IPNU-IPPNU memiliki kemampuan seni yang harus terasah, dengan spirit itulah nilai-nilai seni dapat menjadikan kader memiliki jiwa keindahan dan tentunya dapat bermanfaat untuk dirinya dan masyarakat.

“Penampilan lomba pentas seni penuh dengan nuansa nasionalisme, seperti penampilan musikalisasi puisi dari IPNU-IPPNU ranting Banjardowo. Begitupun penampilan ranting lain juga penuh dengan jiwa patriot dan nasionalis, sebagaimana pertunjukan drama yang mengusung jiwa kepemimpinan para pelajar IPNU-IPPNU dan kesejarahan kepemimpinan KH. Hasyim Asyari, KH. Wahib Hasim hingga Gus Dur,” tutur Lukni Maulana selaku Juri Pentas Seni.

Seperti diketahui, iklim persaingan seiring perkembangan zaman membutuhkan kerja keras untuk dapat membangun kembali rasa nasionalisme, penjajahan tidak lagi berbentuk fisik namun sudah masuk ke ranah budaya maupun ekonomi.

“Sehingga kita sebagai pelajar harus mampu membedakan antara yang baik dan buruk, serta mampu memilah antara kearifan lokal dan produk barat yang mencekam identitas kita sebagai pelajar NU dan bangsa Indonesia,” ujarnya. (BJ)