Home News Update Inilah Sosok Wanita Tangguh Ditengah Lemahnya Perekonomian

Inilah Sosok Wanita Tangguh Ditengah Lemahnya Perekonomian

Sosok

Semarang, 19/9 (BeritaJateng.net) – Wanita yang ramah dan akrab disapa dengan bu Kristin ini merupakan salah satu dari sekian banyak wanita yang menekuni mata pencaharian yang tak lazim bagi wanita pada umumnya. 

Bu Kristin adalah seorang wanita yang bekerja sebagai tukang tambal ban. Ia mampu bertahan dalam kurun waktu 5 tahun dalam ketidak laziman.

Sebuah mata pencaharian yang seharusnya diperuntukkan bagi kaum pria yang notabene sebagai mata pencaharian yang cukup berat. Namun, bagi dirinya tak sedikitpun merasakan bahwa hal ini menjadi sebuah beban yang berat.

“Tidak berat, mungkin karena terbiasa,” jawabnya sembari membersihkan noda oli di tangannya.

Alasan yang membuat dirinya tak keberatan dalam menjalani mata pencaharian ini tidak lain karena demi senyum dan kebahagiaan anak-anaknya.

Dalam hatinya merekalah bagian dari hidupnya. Masih banyak yang harus ia perbuat demi buah hatinya agar tetap berbinar. Maka takkan pernah sedikitpun terlintas dalam benaknya untuk mengibarkan sebuah ‘bendera putih’.

“Anak saya 5, ada yang sudah berumah tangga, ada juga yang sudah bekerja, dan ada pula yang masih sekolah. Sudah puluhan tahun suami saya menekuni pekerjaan ini. Namun, 5 tahun belakangan ini semenjak suami sering sakit, saya ikut membantu, ” ujarnya kepada BeritaJateng.net

Bagi sebagian orang apa yang beliau lakukan adalah sebagian dari tuntutan ekonomi, namun tidak demikian bagi seorang bu Kristin. Hal ini adalah sebagian dari perwujudan cinta beliau terhadap keluarganya.

Disinilah ia merasa harus benar-benar berdiri tegak, dan meyakini bahwa setiap roda kehidupan pasti berputar.

“Saya akui, meski bu Kristin seorang wanita, namun beliau layak untuk menjadi teladan bagi siapapun bukan hanya kaum hawa,” kata seorang dari sekian banyak pelanggan setianya.

Peluh yang seringkali membasahi lesung pipinya tak sedikitpun membuat semangatnya luntur. Sesosok perempuan tangguh yang rela melakukan segala hal demi keluarga.

Ia mengakui tak banyak yang diharapkan dari hasil pekerjaannya sebagai tukang tambal ban. Akan tetapi rasa syukur tak pernah lupa ia haturkan kepada sang pencipta.

“Ya setiap hari tak tentu, tapi setiap hari pasti ada pelanggan dan itu sudah cukup bagi saya, hanya dengan bersyukur semua terasa lebih nikmat,” imbuhnya.

Tak tampak keluh kesah dari raut wajahnya. Bersama sang suami ia secara bergantian menjaga kios kecil miliknya yang berada di pinggir jalan Citarum Semarang.

Fajar kiziblah yang selalu dinanti bu Kristin dan suaminya. Sebab ia sudah mulai membuka kios saat jam menunjukkan pukul 06.00 WIB. Bu Kristin menjaga kios sejak pagi hingga pukul 21.00 WIB, selepas itu suami bu Kristinlah yang bergantian menjaganya.

Meski bekerja keras bu Kristin tak pernah lupa menjalankan tugasnya sebagai seorang ibu. Tinggal di sebuah kontrakan kecil di Jalan Sawah Besar Semarang, tak membuatnya merasa putus asa. Kelak yang ia impikan dapat mempunyai sebuah tempat tinggal sendiri, meski rumah sederhana sekalipun.

“Kalau pagi saya mengantarkan anak-anak berangkat ke sekolah, bersih-bersih rumah baru kerja. Sore harinya saya pulang rumah sejenak untuk mengurus pekerjaan rumah, kemudian kembali ke kios hingga malam. Setelah itu, gantian suami yang jaga,” tambah bu Kristin.

Di kiosnya, sembari melepas lelah ia sesekali beristirahat. Sedemikian kerasnya kehidupan bu Kristin, meski begitu menurutnya ia tak lagi berbicara apa yang akan ia dapat, melainkan apa yang sudah ia berikan untuk anak-anak dan keluarganya.

Baginya masa depan hanya sebatas ujung jari di depan batang hidungnya. Sedemikian dekat hingga tak sempat ia menghindar. Kendati demikian, harapan besar tergambar jelas dimatanya, dan berharap mampu mengantarkan anak-anaknya menembus gerbang kesuksesan dimasa mendatang.

“Saya terus mendoakan supaya anak-anak kami nanti lekas menjadi orang yang sukses, dan berguna bagi siapapun,” harap sang suami.(BJT02)