Home Headline Anggaran Digelapkan, Mahasiswa Terlantar saat KKL

Anggaran Digelapkan, Mahasiswa Terlantar saat KKL

1072

Semarang, 9/2 (BeritaJateng.net) – Ratusan mahasiswa D3 Akuntansi dan D3 Keuangan dan Perbankan, Politeknik Negeri Semarang (Polines) angkatan 2014 terlantar saat melaksanakn kegiatan KKL (Kuliah Kerja Lapangan) di Jakarta-Bandung, awal Februari lalu.

Penyebabnya tak lain karena anggaran yang diperuntukkan untuk pemberangkatan KKL, digelapkan oleh Nur Alijad Ahmadi, dalam hal ini selaku pemilik biro “Mega Dewata Tour”.

Kurang lebih uang senilai Rp. 228 Juta diselewengkan oleh pemilik biro. Ironisnya, Nur merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bekerja di kampus tersebut.

“Kami berangkat 1 Februari 2016. Uang ternyata tidak dibayarkan ke hotel tempat kami menginap, katering serta kebutuhan lain yang dijanjikan sesuai dengan kesepakatan,” kata Enis Dwi Rizki, selaku ketua panita KKL, Selasa (9/2).

Sedianya, pemberangkatan KKL itu melibatkan 203 mahasiswa dan 9 Dosen pendamping, selama 5 hari di Jakarta dan Bandung, dengan menggunakan 9 bus. Namun, akibat dana yang diselewengkan oleh pemilik biro, rombongan KKL Polines tersbut menjadi terlantar.

Bahkan, para rombongan KKL sempat dikeluarkan dari hotel. Hal ini membuat rencana pelaksanaan KKL yang semestinya dilangsungkan selama lima hari, berubah menjadi tiga hari.

“Malam harinya saat hendak istirahat di Jakarta, pintu kamar kami diketuk dan pihak hotel meminta kami untuk iuran untuk melunasi pembayaran kalau tidak kami harus keluar dari hotel,” jelasnya.

Berbagai upaya sudah dilakukan untuk mengatasi persoalan, baik dari perwakilan tour maupun para dosen yang ikut mendampingi pelaksanaan KKL tersebut.

Akan tetapi, Sariyanto selaku perwakilan dari pihak tour akhirnya mengundurkan diri ditengah perjalanan. Hal itu terpaksa dilakukan, mengingat ia sudah tak memiliki biaya, karena uang pribadinya sudah digunakan untuk akomodasi selama perjalanan.

Pun demikian dengan para dosen yang sudah berusaha untuk mengeluarkan uang pribadinya hingga mencapai 24 Juta. Meski demikian, masalah tak seketika selesai. Beberapa komplain dari sejumlah pihak terus berdatangan, termasuk pihak dari katering.

“Sudah ditutup timbul masalah baru, ternyata katering belum dibayar. Pemilik katering marah dan sempat mengancam kalau bus tidak akan bisa keluar sebelum dilunasi,” jelasnya.

Setibanya di Semarang, perwakilan dari mahasiswa dan dosen sempat mencoba mendatangi kantor biro tersebut di daerah Penggaron Regency Semarang, untuk meminta pertanggungjawaban.

Namun, upaya tersebut nihil. Pemilik biro sudah tak berada di tempat. Hingga akhirnya sejumlah perwakilan itu melaporkan Nur Alijad Ahmadi ke Polrestabes Semarang, sebelum akhirnya oleh pihak petugas SPKT Polrestabes mengarahkan ke Polsek Tembalang Semarang. (Bjt02)

Advertisements