Home Lintas Jateng Ini Tujuh Tuntutan FRSPCB Terkait Pembongkaran Pasar Peterongan

Ini Tujuh Tuntutan FRSPCB Terkait Pembongkaran Pasar Peterongan

FB_IMG_1434349833616

Semarang, 15/6 (BeritaJateng.net) – Banyak pihak mengecam atas pembongkaran Pasar Peterongan Semarang. Seperti yang dilakukan Forum Rakyat Semarang Peduli Cagar Budaya (FRSPCB) dengan melakukan aksi penolakan Pembongkaran 100 persen Pasar Peterongan, dan memberikan tujuh tuntutan kepada pemerintah yakni Sapta Tura Semarang (Tujuh Tuntutan Rakyat Semarang).

Sebagai bentuk upaya mempertahankan nilai historis, pembongkaran Pasar Peterongan Semarang sangat disayangkan, karenakan desain bangunannya telah dikenal sebagai pasar beton tertua dan pertama di Semarang yang dibangun sejak 1916 silam.

Teknologi pasar beton bertulang di Peterongan, juga menginspirasi para arsitek terkenal pada zaman kolonial Belanda, seperti Thomas Karsten untuk membangun pasar beton lainnya di Kota Semarang.

Pembongkaran Pasar Peterongan telah menuai kontroversi yang menilai pemerintah seolah olah tidak peduli dengan bangunan cagar budaya pasar Peterongan. Berikut ini beberapa tujuh tuntutan Forum Rakyat Semarang Peduli Cagar Budaya (FRSPCB).

1. Kembalikan bangunan cagar budaya pasar peterongan.

2. Mendesak BPCB dan TACB merubah rekomendasi dan mempertahankan 100% bangunan cagar budaya pasar peterongan.

3. Tetapkan segera pasar peterongan sebagai cagar budaya.

4. Kembalikan pedagang di tempat semula.

5. Lakukan penataan pasar tanpa harus mengusik bangunan cagar budaya yang ada.

6. Kelola pasar dengan transparan, akuntabel dan libatkan partisipasi masyarakat khususnya pedagang dalam setiap membuat kebijakan terkait pasar.

7. Mendesak Polda Jawa Tengah untuk mengusut perusakan bangunan cagar budaya pasar peterongan, seret palaku dan yang terlibat perusakan ke pengadilan.

Menurut Agung selaku koordinator aksi, Pemkot Semarang sebelum melakukan pembongkaran seharusnya mempertimbangkan dengan matang. Pasalnya bangunan yang telah tua tersebut telah ditetapkan menjadi Bangunan Cagar Budaya (BCB) dan memiliki nilai historis tinggi bagi Kota Semarang.

Untuk memprotes kerusakan BCB yang terjadi di Pasar Peterongan, ia berencana bertemu dengan Walikota Semarang Hendrar Prihadi siang ini. “Kami akan bertemu dengan Walikota siang ini. Kami mengecam keras tindakan Pemkot Semarang. Apalagi, hari ini Pemkot mulai membongkar bangunan Pasar Peterongan,” ujarnya.(BJ06)

3 COMMENTS

  1. Pada Ketentuan Pidana Undang-undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya pada Pasal 105 terdapat ancaman bahwa, Setiap orang yang dengan sengaja merusak Cagar Budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

  2. Polisi harus memproses orang/pejabat yang telah merusak bangunan cagar budaya Pasar Peterongan sesuai dengan undang-undang yang berlaku, yaitu Undang-undang no. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya dengan ancama pidana tersebut di atas.

  3. Hal ini harus dilakukan untuk mencegah latahnya para pejabat/orang-orang di Kota Semarang ini dengan sengaja sering merusak bahkan merobohkan bangunan cagar budaya yang ada di kota. Sudah berapa saja bangunan cagar budaya di Kota Semarang ini rusak/roboh/hilang, seperti bangunan Gris yang kini telah menjadi Mall Paragon, alun-alun, Pasar Johar, Pasar Bulu, Masjid Besar Kauman. Demikan juga terhadap bangunan-bangunan cagar budaya yang kini diterlantarkan oleh pemiliknya maupun oleh pemerintah kota Semarang termasuk kena ancaman pidana ini. Menurut Undang-undang tersebut, pemerintah Kota Semarang wajib mengambil alih penguasaannya terhadap bangunan cagar budaya yang diterlantarkan.

Comments are closed.