Home Lintas Jateng Ini Enam Jalan Protokol Semarang Yang Bakal Diubah Jadi Jalan Satu Arah

Ini Enam Jalan Protokol Semarang Yang Bakal Diubah Jadi Jalan Satu Arah

Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Kota Semarang Agus Harmunanto.
Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Kota Semarang Agus Harmunanto.
Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Kota Semarang Agus Harmunanto.

Semarang, 7/10 (BeritaJateng.net) – Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kota Semarang sedang mengkaji enam jalan protokol yang sekarang bersifat dua arah diubah menjadi searah untuk mengurangi kemacetan.

“Ya, masih dalam tahap pengkajian. Rencananya, ada enam jalan yang sekarang jalur dua arah akan diubah menjadi jalur searah,” kata Kepala Dishubkominfo Kota Semarang Agus Harmunanto di Semarang, Rabu.

Ia mengatakan perubahan menjadi jalur searah itu dilakukan sebagai bentuk rekayasa lalu lintas untuk mengurangi kemacetan lalu lintas yang kerap terjadi di sejumlah jalan protokol di Kota Semarang.

Enam jalan protokol itu, kata dia, yakni Jalan Pemuda, Jalan Imam Bonjol, Jalan Gajah Mada, Jalan MH Thamrin, Jalan Pandanaran, dan Jalan Kiai Saleh yang memang disiapkan masing-masing satu paket.

“Kalau mau mengubah jalan dua arah menjadi satu arah kan harus ada pasangannya dulu, misalnya Jalan Pemuda dengan Jalan Imam Bonjol, Jalan Gajah Mada dengan Jalan MH Thamrin. Tidak bisa satu-satu,” katanya.

Menurut dia, pengubahan jalur dua arah menjadi searah itu diyakini mampu mengurangi kemacetan lalu lintas yang kerap terjadi seiring dengan semakin banyaknya jumlah kendaraan bermotor di jalan raya.

Agus menjelaskan kapasitas jalan sudah tidak mungkin dilebarkan secara optimal karena sudah banyak permukiman sehingga salah satu langkah terbaik rekayasa lalu lintas, seperti pengubahan jalur menjadi searah.

“Selama jalan bersifat satu arah tidak akan ‘mandek’ (arus lalu lintas, red.) dan terus mengalir meski masih ada kemungkinan tersendat. Beda jika jalur dua arah, lebih banyak potensi macetnya,” katanya.

Ia mengakui kebijakan mengubah jalur menjadi searah itu harus diikuti dengan berbagai penyesuaian, seperti rute angkutan kota dan Trans Semarang yang automatis harus menyesuaikan kebijakan jalur searah itu.

“Sosialisasi pasti harus dilakukan, terutama kepada pengelola perkantoran atau pemilik toko. Mungkin ada kekhawatiran tokonya jadi sepi atau bagaimana setelah jalan diubah menjadi satu arah,” katanya.

Namun, Agus meyakinkan pemilik toko atau pengelola perkantoran untuk tidak khawatir karena selama memberikan pelayanan yang baik kepada pelanggan pasti akan dicari konsumen meski sudah pindah sekalipun. (Bj/ant)