Home Hukum dan Kriminal Ingin Masuk Perguruan Tinggi, Pria Ini Justru Tertipu Rp. 52Juta

Ingin Masuk Perguruan Tinggi, Pria Ini Justru Tertipu Rp. 52Juta

Semarang, 6/1 ( BeritaJateng.net) – Merasa ditipu, Mochmadun seorang pria berumur 49 tahun melaporkan seseorang berinisial AR ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Semarang.

Mochmadun merasa ditipu lantaran apa yang dijanjikan oleh AR, untuk bisa memasukkan anaknya di Fakultas Kedokteran di salah satu Perguruan Tinggi Negri di Semarang, tidak dipenuhi terlapor.

Dikisahkan, pesoalan tersebut sudah berlangsung cukup lama. Tepatnya terjadi pada tanggal 15 Juli 2015 silam, saat PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru). Namun, korban melaporkannya baru belakangan ini.

Berawal dari keinginan anaknya yang ingin menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran di sebuah PTN (Perguruan Tinggi Negeri) Kota Semarang. Sesuai keinginannya, sang anak yang baru lulus Sekolah Menengah Atas di daerah Grobogan itu mendaftar saat PMB dibuka.

Menjelang ujian masuk PTN, sang ayah (Mochmadun) berjumpa dengan terlapor (AR). Saat itu AR mengaku sebagai orang yang berpengaruh meluluskan calon mahasiswa sesuai fakultas yang diinginkan.

Mendengar apa yang dikatakan AR, Mochmadun pun merasa gembira. Korban menaruh harapan besar kepada AR yang dapat memenuhi cita-cita dari sang anak, meski ada imbalan yang harus diberikannya.

Setelah terlibat perbincangan serius, terjadilah sebuah kesepakatan bahwa korban harus menyediakan uang senilai Rp. 52 Juta rupiah. Tanpa menaruh curiga dan demi masa depan sang anak, Mochmadun lantas berupaya untuk memenuhi apa yang diminta AR.

Imbalan yang diminta itu pun akhirnya dituruti korban, dan jumlahnya sesuai yang sudah disepakati kedua belah pihak. Tanpa menaruh curiga, oleh korban diserahkannya uang itu kepada AR, di lingkungan PTN yang dimaksud.

“Uang senilai Rp. 52 Juta sudah saya serahkan kepada saudara AR,” ujar korban kepada petugas saat melapor.

Selanjutnya, ketika tiba waktu pengumuman, betapa kagetnya sang ayah tak melihat nama anaknya terpampang di papan pengumuman. Mengetahui hal itu, Mochmadun selanjutnya mendatangi AR untuk meminta pertanggung jawaban.

Mochmadun baru menyadari sebagai korban penipuan, ketika tiap kali ia mengkonfirmasi perihal tujuannya tak mendapat tanggapan dari AR.

Karena persoalan itu sudah berlarut-larut tak kunjung selesai, membuat kesabaran korban hilang. Hingga akhirnya dirinya memutuskan untuk melaporkan kasus ini kepada pihak yang berwajib. (Bjt02)