Home Ekbis Industri Tekstil Diharapkan Mampu Kurangi Pengangguran

Industri Tekstil Diharapkan Mampu Kurangi Pengangguran

image
Ilustrasi

Semarang, 24/11 (Beritajateng.net) – Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) berharap industri tekstil mampu meminimalisasi jumlah pengangguran seiring dengan semakin luasnya pasar untuk sektor tersebut.

“Pertumbuhan industri di Jateng khususnya tekstil akan terus positif karena permintaan pasar yang memang luar biasa tinggi terutama untuk pasar asing,” kata Ketua API Ade Sudrajat di Semarang, Senin.

Menurutnya, dengan semakin baiknya pertumbuhan sektor tersebut diharapkan bisa menekan angka pengangguran di Jawa Tengah bahkan bisa menyerapkan tenaga kerja dari luar daerah.

“Bukan tidak mungkin jika tenaga kerja di Jateng yang harus diserap sudah habis maka pelaku usaha harus mendatangkan pekerja dari Jawa Timur atau Jawa Barat,” katanya.

Ade mengatakan, tingginya permintaan pasar asing tersebut tidak lepas dari daya saing yang juga meningkat. Menurutnya, jika daya saing meningkat maka akan diiringi peningkatan produksi industri yang bisa lebih dari tiga kali lipat.

Dalam hal ini, Jateng menjadi salah satu daerah yang harus mempersiapkan diri mengingat ada beberapa kawasan industri yang terdapat di daerah ini di antaranya di Boyolali dan Kendal.

Sementara itu, untuk meningkatkan produktivitas para tenaga kerja pihaknya berharap agar pemilik usaha memberikan fasilitas yang memadai kepada para pekerjanya, salah satu yang bisa diberikan yaitu fasilitas tempat tinggal.

Mengenai kondisi tersebut saat ini pihaknya tengah gencar melakukan sosialisasi kepada para pelaku usaha agar menyediakan fasilitas rumah berbentuk vertikal yang letaknya berdekatan dengan tempat kerja.

“Dengan penyediaan fasilitas rumah vertikal tersebut maka akan semakin banyak unit tempat tinggal yang bisa dimanfaatkan oleh para pekerja tanpa memakan lahan yang terlalu luas,” katanya.

Menurutnya, fasilitas tempat tinggal perlu diberikan mengingat saat ini banyak terjadi para pekerja pabrik yang tinggal jauh dari tempat kerjanya dan berakibat pada menurunnya produktivitas kerja.

“Misalnya saja di kawasan Jawa Barat atau Jakarta, para pekerja ini harus melakukan perjalanan sekitar 1 jam bahkan lebih untuk bisa sampai di tempat kerja. Dengan waktu yang selama itu, mereka sudah capek duluan sebelum bekerja,” katanya.(ant/pj)