Home Ekbis Industri Batik dan Rumah Makan Ditemukan Gunakan Elpiji Melon

Industri Batik dan Rumah Makan Ditemukan Gunakan Elpiji Melon

1017
0
Industri Batik dan Rumah Makan Ditemukan Gunakan Elpiji Melon.
       KAJEN, 13/9 (BeritaJateng.net) – Tim gabungan terdiri atas Pertamina, Pemkab Pekalongan, Hiswana Migas Kabupaten Pekalongan dan Polres Pekalongan, menemukan adanya usaha industri batik cukup besar serta rumah makan menggunakan elpiji subsidi yang seharusnya bukan peruntukkannya.
       Dari inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan kali ini di Kampung Batik Wiradesa dan di warung makan di Jalur Pantura Wiradesa kemarin (13/9), berhasil diamankan puluhan tabung gas melon. Namun dalam aksi tersebut, tim langsung mengeksekusi atau mengganti barang temuan dengan tabung ukuran 5,5 kilogram.
       “Dari temuan yang ada dua tabung gas melon kami ganti langsung dengan gas warna merah muda ukuran 5,5 kilogram. Hal itu dilakukan sebagai sarana sosialisasi, sekaligus memberikan syok pengusaha agar mematuhi peraturan,” kata Sales Executive LPG Rayon III PT Pertamina Marketing Operation Region IV Jateng- DIY, Deny Hamdani.
       Dikatakannya, meski sudah melakukan sosialisasi bahwa gas melon diperuntukkan bagi warga tidak mampu, tapi masih saja ditemukan pihak yang tidak semestinya memanfaatkan dan menyalahgunakannya. “Untuk di industri batik saja, ditemukan setidaknya 15 tabung per tempat dari empat tempat yang dikunjungi dan di warung makan ada 12 tabung yang konsumsinya habis sehari. Jika hal tersebut dibiarkan maka subsidi pemerintah akan terus membengkak,” tuturnya.
       Dikatakannya, Pertamina bersama pihak terkait akan terus melakukan pemantauan agar subsidi yang dilakukan pemerintah tepat sasaran. “Sebetulnya tidak ada kelangkaan, tabung merah muda juga mudah didapat. Hanya saja ada ketidak tepat sasaran. Untuk itu kami terus awasi. Mudah-mudahan ke depan tujuan yang diharapkan bisa tercapai. Saya imbau untuk pengusaha bukan mikro, jangan gunakan subsidi,” tandasnya.
       Koordinator Hiswana Migas Kabupaten Pekalongan Asrofi mengatakan, penggunaan elpiji tiga kilogram saat ini banyak disalahgunakan oleh masyarakat. Tabung subsidi yang sasarannya adalah warga tidak mampu yang diberikan oleh pemerintah banyak juga digunakan oleh pengusaha skala menengah sehingga menyebabkan angka subsidi membengkak.
       “Untuk itu dilakukan pantauan langsung ini ke lapangan untuk mengecek penggunaan elpiji tiga kilogram. Dari pantauan banyak pengusaha yang sudah tidak lagi dalam kategori mikro masih menggunakan elpiji bersubsidi sehingga subsidi melebihi kuota padahal disatu sisi angka kemiskinan mengalami penurunan,” katanya.
       Sementara itu salah seorang pemilik warung makan di Wiradesa Catur Sudarmanto mengatakan, dirinya menggunakan gas melon sudah cukup lama. Hal itu dilakukan lantaran mudah ditemukan di pasaran dibandingkan gas merah muda. “Ya tidak masalah saya ganti ke tabung ukuran 5,5 kilogram saja, namun diharapkan mudah didapat,” ucapnya. (ST/El)