Home Ekbis Ijin Legalitas Kayu Alam Sulit, Pelaku Usaha Kayu Gunakan Kayu Rakyat

Ijin Legalitas Kayu Alam Sulit, Pelaku Usaha Kayu Gunakan Kayu Rakyat

Pelaku IKM

— Jatuh Bangun Pengusaha Kayu Urus SVLK

SOLO, 23/9 (BeritaJateng.net) – Selain mengandalkan Deklarasi  Eksport (DE) yang diterbitkan oleh  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Kementerian Perdagangan, pengusaha kayu dan turunannya juga banyak memilih bermain di sektor kayu olahan yang saat ini sedang naik daun, seperti produk barecore.

Barecore diambil dari hasil kayu hutan rakyat  yakni sengon dan juga jabon. Untuk hutan rakyat proses ijin kayu tidak repot. Pemilik kayu bisa mengeluarkan dokumen atau surat jalan sendiri terkait kepemilikan kayunya. Tanpa harus melapor dulu pada pemerintah setempat (RT/RW/Lurah).

Barecore adalah potongan kayu olahan dari sengon ini disusun menjadi papan (barecore) sebagai bahan setengah jadi untuk produk furniture dan dinding yang ramah lingkungan.

Barecore diminati karena berasal dari  kayu rakyat yang lebih mudah dijual, pasarnya masih terbuka, bahan baku melimpah ruah dan gampang untuk di budidayakan. Selain itu kayu rakyat juga gampang, tidak berbelit-belit seperti kayu alam yang sering dituding ilegal.

Ketua Umum Indonesian Barecore Association (IBcA), Hari Mulyono Indonesian Barecore Association (IBcA), merupakan  asosiasi pengusaha kayu olahan barecore  yang baru berdiri awal Mei 2015 lalu.

Ada sekitar 150 industri barecore  banyak berkembang dan mayoritas berada di di Pulau Jawa, yakni Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Namun saat ini juga sudah merambah di luar Pulau Jawa, yakni Bengkulu dan Lombok.

“Saat ini kayu olahan (barecore) asal Indonesia kuasai 90 persen pangsa pasar dunia. Rata-rata  4.000 sampai 5.000 peti kemas perbulan untuk tujuan ekspor,” paparnya.

Tujuan utama ekspor barecore adalah  Tiongkok dan Taiwan. Meski tidak seketat Uni Eropa namun Indonesian Barecore Association (IBcA) tetap mengupayakan anggotanya agar tetap memiliki SVLK sebagai syarat legalitas kayu yang berlaku di pasaran internasional.

Salah satu industri barecore berbahan kayu sengon yang sukses menembus pasar ekspor adalah PT Nagabhuana Aneka Piranti (NAP) yang berlangsung di desa  Manjung, Kabupaten Wonogiri sudah memenuhi standart ekspor setelah dilakukan berbagai uji dan karantina yang berfungsi untuk pemeriksaan fisik agar tidak ada kuman yang menempel di produknya.

Kepala Badan Karantina Pertanian, Jakarta, Banun Harpini saat soft launching barecore berbahan sengon di PT NAP, Manjung, Wonogiri menyebutkan tujuannya agar melindungi dan memberi keamanan agar tidak dikembalikan oleh negara penerima.

“Kami  tidak akan menghalangi dalam hal karantina tetapi lebih para perlindungan produsen agar barang yang dikirim terbebas dari organisme pengganggu tanaman (OPT). Jangan sampai barang yang sudah diekspor dikembalikan oleh negara pemesan,” papar Banun di Wonogiri belum lama ini.

Sementara itu Kepala Asosiasi Barecore Jateng, Winarno mengaku produk barecore memiliki prospek yang bagus kedepannya dan mampu menjadi salah satu pemasok devisa.
Saat ini ada 124 perusahaan barecore dengan kapasitas 4.000 kontainer per bulan dan mampu menyerap banyak tenaga kerja.

“Satu mesin barecore perlu  50 orang tenaga kerja,” paparnya.

Direktur Utama PT NAP Wonogiri, Gunawan Wijaya, yang pabriknya menjadi proyek percontohan mengaku saat ini eksport terbesarnya ke negara AS dan Eropa dengan hasil produk kayu sengon yang ramah lingkungan dan sangat diminanti pasar luar negeri.

“Target ekspor kami 300 kontainer/tahun. Namun baru terpenuhi separuhnya saja,” ungkapnya.

Pemerintah Harus Pikirkan IKM

Wakil Ketua  menyebutkan ASMINDO Solo salah satu kendala dalam pengurusan SVLK adalah masalah administratif perusahaan. SVLK awal berlaku selama 3 tahun. Dimana pada tahun ke 2 dan tahun ke 3 mulai diberlakukan ‘survelance’ atau re audit.

“Biayanya berkisar 75 persen dari biata SVLK dan di tahun ke 4 bisa mencari petugas SVLK yang baru,” jelas Adi Dharma.

Sumaryoto selaku IKM produk turunan kayu mengaku di tengah tingginya nilai dolar terhadap rupiah membuat sebagian pelaku eksport kayu sedang sekarat, ibaratnya hidup segan mati juga tidak. 

Beragam cara di lakukan mulai dari pameran dan juga menjadi suplier dari beberapa outlet, juga ikut berbagai pelatihan dimana harapannya bisa mendaptkan pangsa pasar.  Namun respon pasar sangat rendah. Turunnya rupiah mempuat eksportir meraup untung, namun bagi IKM kecil  yang buntung.

“Saya tidak mengerti dua tahun belakangan ini pasar berat sekali. Padahal sudah rutin menggelar pameran. Namun minat pasar turun drastis,” keluhnya. (BJ24)/bersambung)