Home Kesehatan IAI Jateng Dukung Pemberantasan Obat Ilegal

IAI Jateng Dukung Pemberantasan Obat Ilegal

90
0
Pabrik PCC Purwokerto Digrebek Bareskrim
             SEMARANG, 2/10 (BeritaJateng.net) – Banyaknya peredaran obat terlarang seperti Pil Paracetamol Caffeine Carispodol (PCC), Trihex, dextro dan yang lainnya membuat Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Jawa Tengah gerah, mereka menyatakan memberikan dukungan kepada Balai Pengawas Obat dan Makanan (Balai POM) dan Kepolisian untuk segera bergerak melakukan pemberantasan dan pengawasan peredaran obat-obat terlarang, dengan melakukan kerjasama yang diselenggarakan di Kantor Dinas Kesehatan Jawa Tengah.
             Kepala Balai Besar POM Semarang, Endang Pudjiwati mengatakan jika saat ini dilapangan banyak terjadi penyalahgunaan obat-obatan terlarang yang herusnya tidak bisa beredar atau ditebus tanpa resep dokter. “Banyak jenisnya, seperti trihex dan dextro yang merupakan obat untuk penyembuhan namun disalahgunakan dan sangat berbahaya bagi kesehatan,” katanya.
            Endang menjelaskan, penyalahgunaan obat yang harusnya beredar menggunakan resep dokter tersebut, termasuk obat ilegal, pasalnya dijual tanpa ijin ataupun sepengetahuan dari Balai POM. “Jalur distribusinya ya tidak diawasi, jadi dengan kerjasama ini semoga penyalahgunaan obat dan efek sampingnya bisa diminimalisir,” jelasnya.
              Terpisah Kabag Binopsnal Ditresnarkoba Polda Jateng AKBP Sunarto, yang datang mewakili Diresnarkoba Polda Jateng mengatakan jika dari tahun-ketahun angka penyalahgunaan obat-obatan terus mengalami kenaikan tahun lalu misalnya hanya ada sekitar 204 kasus, tahun ini mengalami peningkatan mencapai 234 kasus. “Kami sudah melakukan penindakan, kalau angka kasusnya terus mengalami kenaikan karena faktor ekonomi, orang yang tidak punya kewenangan dan keahlian dibidang farmasi berani menjualnya,” tuturnya.
               Dari jumlah kasus tersebut, banyak kasus yang sudah terungkap hingga petugas menangkap pelaku peredaran obat-obatan terlang. Lebih mirisnya korban atau pengguna obat tersebut biasanya adalah anak-anak, remaja hingga orang yang berusia produktif. “Dengan kerjasama ini Dinkes, Bpom, Polisi dan IAI akan melakukan pengawasan yang lebih ketat, termasuk mengantisipasi beredarnya pil PCC,” tegasnya.
               Sementara itu, Ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Jawa Tengah, Djamaluddin mengatakan selain kerjasama, anggota IAI juga melakukan edukasi kepada masyarakat dengan melakukan kampanye dibeberapa ruas jalan yang ada di Semarang, seperti Jalan Piere Tendean, Pemuda, Tugu Muda, Imam Bonjol. “Kegiatan longmarch ini dilakukan sebagai langkah edukasi tentang bahaya obat-obatan terlarang ataupun tanpa resep dokter,” tambahnya,
                  Ia menjelaskan, menurut undang-undang, apoteker yang notabene bergelut dengan obat dan kefarmasian mejadi garda terdepan serta punya tanggungjawab agar obat –obatan bisa sampai ke masyarakat dengan kwalitas serta mutu yang baik. “Kami tidak bisa melepaskan diri dengan banyaknya obat ilegal yang beredar, jadi harus diperangi karena pemberantasan tidak bisa dilakukan satu sektor saja,” jelasnya.
                 IAI sendiri lanjut dia punya tanggungjawab untuk membentengi masyarakat dari obat ilegal. Disinggung apakah ada anggota IAI yang pernah terlibat dalam peredaran ataupun penjualan obat tanpa resep dokter, Djamaluddin menegaskan hal tersebut belum pernah terjadi. “Kalau secara kode etik tidak boleh, bisa ditindak tegas dan mendapatkan sanksi dari IAI,” tuturnya.(El)