Hindun Anisa,Populerkan Isu Gender di Pesantren

Selama ini kita mengenal pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan agama penuh dengan aturan ketat yang membelenggu kiprah perempuan. Rumus ini tidak berlaku bagi Hindun Anisa. Sang pemimpin Pondok Pesantren Hasyim As’ari Joglo Bangsri Jepara ini hadir menggelorakan perubahan. Ia nekat untuk mendobrak tatanan lama.

Pagi hari menjelang subuh, ratusan santri perempuan di pondok pesantren Hasyim As’ari Joglo-Bangsri Jepara tampak bersemangat melantunkan ayat suci Alquran. Ini menjadi penanda akan segera dimulainya salat subuh berjamaah.

Seorang perempuan berbalut mukena bergegas datang untuk menjadi imam salat jamaah. Dia adalah Hindun Anisa, pemimpin pondok pesantren ini.

Suaranya lantang melantunkan ayat demi ayat dalam dua rekaat ibadah subuh pagi ini. Usai salat, Hindun menyapa para santrinya.

“Pagi ini kita kedatangan tamu Mbak Shinta, Jurnalis dari Semarang. Kebetulan sekali yang ingin berdiskusi gunakan kesempatan ini,” kata perempuan penghafal Alquran ini di depan ratusan santrinya.

Gaya berdialog Hindun sangat santai. Ia sungguh menyatu dengan para santri. Tidak salah jika mereka memanggilnya Bunda. Hindun sukses tampil layaknya sebagai sosok Ibu bukan nyai yang umumnya memiliki jarak dengan para santrinya.

“Bunda itu gaul. Suka ngajari kita macam-macam pengetahuan dan ngajak kita kemana-mana,”tutur Nabila, salah satu santri.

Sebagai lembaga pendidikan Islam, pesantren Hasym As’ari ini sama dengan pesantren pada umumnya. Kajian yang diajarkan terkait Alquran, fiqih, hadist dan kitab-kitab lain. Namun bedanya, pesantren yang berbentuk joglo kuno ini tegas menerapkan kurikulum yang tidak biasa.

Hindun menyebut kurikulum yang diusung adalah kurikulum yang mendobrak tatanan lama. Ia memasukkan kurikulum berbasis pada kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dan anak.
Ketidak puasan pada pelajaran masa lampau menjadi alasan utama ia membuat perubahan.

“Pertama saya lulusan pesantren. Jadi saya merasa dulu di pesantren, bisa dikatakan ada diskrkimanasi dari sisi kitab-kitab yang kita kaji. Kitab yang dikaji santri putra secara hirarki lebih tinggi dibanding santri putri,” kata Hindun yang kini sedang mengikuti pendidikan singkat Resolusi Konflik dan Agama di Drew University New Jersey Amerika.

Perbedaan hak dalam menerima pelajaran ini, terus menerus berkecamuk menjadi protes dan pertanyaan mendalam. Dia simpan terus menerus tanda tanya itu hingga masuk kejenjang Aliyah (setingkat SMA).

Bagi Hindun yang juga putri seorang pendiri pondok pesantren ternama di Yogyakarta, menjalani kehidupan di pesantren adalah wajib. Karenanya ia kenyang akan beragam metode yang diajarkan pesantren-pesantren. Termasuk beragam diskriminasi yang diterima oleh santri perempuan.

“Ketika aliyah, pindah pesantren memang tidak ada perbedaan kitab yang dikaji. Tapi dari sisi lain peluang perempuan untuk terjun menjadi pengajar,dikebiri,” ujar aktifis yang sudah diajari kritis sejak kecil. Oleh Ibu kandungnya ia kerap mendapat cerita tentang pejuang-pejuang perempuan.

Hindun bersama keluarganya.
Hindun bersama keluarganya.

Saat itu, Hindun melihat perempuan hanya boleh mengajar perempuan saja. Berbeda dengan peluang pengajar laki-laki yang bebas pilihan.

Dialog Mengubah Stigma Kyai Kolot

Kerancuan peran perempuan dalam posisi ini lebih disebabkan pemahaman yang keliru terhadap fiqih. Menurut Hindun, fiqih adalah produk. Ketika dibentuk tentu memiliki sejarah dan metode.

“Dibuat untuk apa? Apa latar belakangnya? Ada pendapat suara perempuan itu aurat, tubuh perempuan adalah fitnah. Sebenarnya itu pendapat-pendapat. Fiqih menjadi mainstream, karena melupakan sejarah nabi yang menjadi latar belakang. Ini membuat distorsi,”?kata alumni alumni Fakultas Syari’ah jurusan Perbandingan Madzab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Berbekal keyakinan, bahwa dalam Islam, perempuan dan laki-laki memiliki kedudukan yang sama, Hindun melenggang membuat perubahan. Jiwa pemberontakannya ia salurkan dengan terjun sebagai aktifis di berbagai organisasi.

Semasa kuliah dia aktif sebagai pengurus BEM. Lulus kuliah, Hindun bergabung ke organisasi perempuan dibawah naugan Nahdlatul Ulama (NU). Bersama para tokoh senior NU, Ia membuat banyak penelitian dan pendampingan. Satu terobosan fenomenal yang digarapnya kala itu adalah menggelar dialog dengan sejumlah pimpinan pondok pesantren di Yogyakarta. Langkah ini untuk mempopulerkan isu gender dalam konteks Islam.

“Kami menggelar dialog masalah-masalah perempuan. Upaya ini untuk mengubah stigma. Saat itu saya jadi fasilitator. Mengubah pandangan kyai yang tidak mau baca buku tentang gender. Apalagi buku berbahasa Indonesia dianggap buku kafir,” tutur ibu dari lima anak ini mengenang aksinya.

Hindun tidak pantang menyerah. Selama kurang lebih 2 tahun, ia bersama tim berhasil mengubah kekolotan pimpinan pesantren terkait pandangannya terhadap masalah perempuan.

“Lewat dialog rutin itu, para kyai tidak pernah absen. Mereka jadi rajin baca buku, bahkan sudah memerintahkan istrinya ikut membaca-baca buku tentang kesetaraan gender,” tuturnya bangga.

Satgas Perlindungan TKI

Guna melancarkan aktifitasnya membela hak perempuan, Hindun yang lulusan Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ‘meresmikan’ statusnya dengan mengambil pendidikan Advokat.

“Berbekal ijazah Advokat,langkah saya membela hak perempuan lebih terarah,” ujarnya.

Berkat konsistensi dan komitmennya terhadap perlindungan hak perempuan, kesempatan lain terus berdatangan. Pada tahun 2011, Hindun diangkat Pemerintahan SBY menjadi satgas perlindungan TKI. Hindun ikut menyelesaikan persoalan rumit yang menerpa para Tenaga Kerja Indonesia di Hongkong dan Arab Saudi. Termasuk menyelamatkan para TKW dari ancaman hukuman mati di Arab Saudi.

“Diantaranya 3 TKW dari Ungaran,Malang dan Karawang,” jelas perempuan kelahiran Yogyakarta 2 Mei 1974 ini kalem.

Pesantren Shelter Perempuan Korban Kekerasan

Sukses melalang buana ke berbagai belahan dunia dalam menegakan dan melindungi hak perempuan, Hindun mundur sesaat. Ia berpikir untuk menyiapkan generasi penerusnya.

“Saya ingin melahirkan generasi perempuan yang kuat. Punya bekal kuat untuk menghadapi kemajuan jaman dan membela perempuan lainnya,” tutur master Anthropologi Kesehatan Universitas Amsterdam Belanda ini optimis.

Langkah tegasnya adalah kembali ke pesantren. Pondok Pesantren Hasyim As’ari Bangsri Jepara. Pesantren ini ia kelola bersama sang suami, Nurudin Amin.

Sebagai alumni pesantren, Hindun optimis, pesantren adalah lembaga pendidikan agama yang mampu membentuk manusia berkualitas.

Ulama yang berlatar belakang aktifis perempuan ini mencoba menerapkan dua modal itu untuk mengelola pesantrennya. Dengan dukungan penuh sang suami, Hindun menjadikan pesantrennya sebagai lembaga pendidikan sekaligus tempat perlindungan dan pemberdayaan perempuan.

Sebagai tempat pendidikan, sudah pasti Hindun bersemangat memasukan misi-misi kesetaraan gender dibalik semua syiar dan kajian kepada para santrinya. Sementara sebagai tempat perlindungan perempuan, Hindun serius membuka pesantrennya sebagai shelter perempuan korban kekerasan.

Salah satunya Karin. Siswa kelas 2 Madrasah Aliyah yang menetap di pesantren Hasym As’ari sejak usia SMP. Ia menjadi korban pemerkosaan yang dilakukan Ayah tirinya atas persetujuan sang Ibu kandung.

“Trauma berat dan hampir sepanjang hidupnya tidur dengan membawa pisau,” tutur Hindun lagi.

Beruntung, seorang kerabat membawanya lari dan menitipkan ke pesantren ini.

“Saya pingin seperti Bunda. Pingin punya masa depan. Besok saya mau jadi lawyer!,” ungkap Karin suatu sore.

Remaja yang butuh 2 tahun melewati masa trauma pasca menjadi korban pemerkosaan ini sekarang berangsur riang. Karin merasa perhatian penuh dari pengasuh pesantren berjasa dalam membangkitkan semangatnya.

“Saya senang sering dapat oleh-oleh dari Umi dan Bunda waktu mereka pulang dari luar kota,” tuturnya polos.

Jurnalistik Untuk Membentuk Mental Santri

Semangat kesetaraan gender berikutnya yang diusung Hindun adalah membuat aturan yang berbeda dengan pesantren pada umumnya.

Santri putra dan putri mendapat akses yang sama di berbagai bidang. Aturan keluar pondok, melalang buana sama sekali tidak berbeda. Yang membatasi hanya bakat dan minat para santri.

Pengajarpun dibebaskan. Perempuan dan laki-laki mendapat kesempatan yang sama dalam mengajarkan materi agama.

“Tentu ini mendapat respon negatif dari pemilik pesantren lain. Saya dianggap terlalu membebaskan perempuan,” tutur perempuan yang akrab disapa Ning Hindun ini.

Ia tetap teguh pada pendiriannya ditengah perbedaan sikap dengan ratusan pesantren lain di Kabupaten Jepara.

Hindun bersama sang suami, Nurudin Amin ini punya cara kreatif untuk membangun kepercayaan diri para santri. Mereka menggunakan jalur jurnalistik sebagai sarana pembentukan mental dan karakter santri-santrinya.

Pesantren dengan jumlah 200 santri ini juga memiliki lembaga pendidikan MTs dan MA Hasysm As’ari. Dua lembaga (pesantren dan sekolah) ini aktif menerbitkan majalah sekolah sejak tahun 2005.

Ada dua majalah terbitan mereka yakni Majalah Suara Hasym As’ari untuk tingkat Madrasah Tsanawiyah (Mts) dan Majalah Koma untuk tingkat Madrasah Aliyah (MA).
Tim redaksi pada kedua media ini didominasi siswa dan santri perempuan. Dari pimred, redaktur, reporter hingga fotografer.

Zahrotul Ulya, pemimpin redaksi Suara HA mengakui jurnalistik telah membentuk karakter dan mental kuatnya.

“Berani itu pasti, saya punya mental kaya gini karena saya jurnalis. Jurnalis kan kemana-mana. Motret dan meliput berani ke depan banyak orang. Jurnalis dilatih mental,” kata Ulya bangga.

“Kalau kita sudah punya kecerdasan dan keberanian,kita bisa menyuarakan pendapat kita. Kita bisa berkata tidak pada diskriminasi. Kita bisa melawan kalau ada pihak yang bertujuan buruk ke kita,” lanjut Ulya berapi-api.

Sejak awal datang nyantri di Ponpes Hasyim As’ari ini, Ulya langsung bergabung dengan tim redaksi Suara HA. Alasannya sederhana. Karena ia hobi menulis puisi.

“Waktu dites awal, suruh nulis apapun, termasuk puisi. Ya sudah, senang sekali saya,” kata jurnalis cilik yang sudah mewawancarai Dian Sastro dan Hanung Bramantyo ini.

Aulida Lila, reporter di Majalah KOMA. Ini majalah bentukan yayasan Hasyim As’ari untuk tingkat Aliyah. Bagi siswi kelas 2 Madrasah Aliyah ini pintu jurnalistik telah membangkitkan jiwa kreatifnya.

“Lewat jurnalistik, kita jadi kreatif. Menulis, itu mengasah kreatifitas karena harus terus berfikir panjang,” ujarnya.

Dia juga bersyukur, semangat kreatifitasnya mendapat dukungan dari pemimpin pondok pesantrennya.

“Pondok ini, beda. Disini santri perempuan boleh keluar dari pondok atas ijin Bunda. Dibebaskan tugas wawancara. Mau malam atau pagi, kalau alasan benar, pasti mendapat ijin,” kata santriwati ini puas.

Upaya serius dalam mencerdaskan para santri, membekali mental tegas dan kritis inipun tidak sia-sia. Segala kreatifitas santri dituangkan lewat karya jurnalistik majalah Suara HA dan Majalah Koma.

Kerja keras tim redaksi dari kecamatan kecil di Jepara ini membuahkan hasil yang membanggakan. Mereka sukses meraih penghargaan lembaga pers siswa terbaik tingkat Provinsi Jawa Tengah.

“Kami akan terus membuat prestasi. Sangat bangga menjadi perempuan masa depan yang dibekali ilmu agama dan pengetahuan luas,” kata para santri.

Dilaporkan Wartawan BeritaJateng.net, Shinta Ardhany Semarang

10 Komentar

  1. Sabas untuk mba hindun..
    Satu hal yg saya tau beliau menjuarai olah raga catur porseni se DIY sbagai duta dr sekalah kami MA Ali maksum.

Comments are closed.