Home Nasional Himpsi Beri Layanan Psikologi Untuk Korban AirAsia

Himpsi Beri Layanan Psikologi Untuk Korban AirAsia

389

.Tragedi AirAsia

image
Ilustrasi

Surabaya, 2/1 (Beritajateng.net) – Relawan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Jawa Timur memberikan layanan psikologis bagi keluarga korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 di Posko Psikologi AirAsia 24 jam, dan jika diperlukan bisa dilanjutkan hingga rumah keluarga korban.

“Mulai 1 Januari 2015, Posko Psikologi HIMPSI yang semula di Bandara Juanda telah bergeser ke Polda Jatim. Di sini, layanan psikologi disiapkan 24 jam dalam tiga ‘shift’,” kata Ketua HIMPSI Jatim Dr Seger Handoyo (Psikolog), di Surabaya, Jumat.

Dalam keterangan resmi yang diterima Antara dari HIMPSI Jatim, dosen Unair Surabaya itu menjelaskan proses pendampingan keluarga korban dalam koordinasi kerja layanan psikologis di Polda Jatim itu telah diintegrasikan dalam Tim Pendampingan Keluarga.

“Pendampingan psikologis akan diberikan bagi anggota keluarga penumpang dari proses pencarian korban, identifikasi ‘Antemortem’ dan ‘Postmortem’, hingga pemulangan jenazah kepada keluarga,” tuturnya.

Bahkan, bagi keluarga yang membutuhkan penanganan psikologis lebih intensif, maka Psikolog HIMPSI dapat memberikan layanan baik di Crisis Center maupun hingga di rumah, jika diperlukan.

“Kami menggunakan pendekatan kekeluargaan dan proaktif menghampiri keluarga yang membutuhkan, karena banyak juga keluarga yang lebih memilih dibiarkan sendiri bersama keluarga terdekatnya,” ucapnya.

Pada tahap awal, HIMPSI memberikan Layanan Psikologis Pertama (Psychological First Aid), tapi bagi keluarga yang mengalami reaksi emosional ekstrem akan dilakukan intervensi psikologis di ruang yang terpisah.

“Berbagai tehnik intervensi psikologis untuk menstabilkan emosi bisa diberikan seperti ‘deep breathing’, ‘grounding exercise’, relaksasi, ‘mindfulness’, dan sebagainya,” paparnya.

Menurut dia, Layanan Psikologis Pertama yang bersifat dasar itu ada tiga tahap yakni restabilisasi, rekonstruksi, dan reintegrasi.

Tahap restabilisasi diarahkan untuk setiap individu mampu mengelola kestabilan emosi.

“Jika individu sangat sedih hingga emosi meluap-luap maka akan dibantu untuk menurunkan emosinya, sebaliknya jika individu sangat sedih hingga menjadi pasif dan tidak berdaya, maka akan dibantu untuk menaikkan semangatnya,” ujarnya.

Tahap rekonstruksi untuk membantu individu menyusun baru harapan dalam hidupnya. Perlu dipahami bahwa kehilangan anggota keluarga berakibat perubahan dalam hidup seseorang, maka bisa terjadi perubahan harapan.

“Misalkan, kehilangan ayah artinya perlu merencanakan siapa yang akan menjadi tulang punggung keluarga atau kehilangan anak akan mengubah pengasuhan anak di keluarga,” katanya.

Namun, perencanaan hanya bisa optimal jika individu telah mencapai penerimaan (acceptance). Psikolog akan membantu individu untuk mencapai penerimaan agar bisa melakukan perencanaan dan melanjutkan hidup.

Tahap reintegrasi akan membantu individu untuk dapat masuk, menyesuaikan diri dan melanjutkan aktivitas dalam hidup barunya.

“Reaksi emosional pada saat menghadapi musibah akan menurun dengan berjalannya waktu,” tutur Ahli Trauma Healing HIMPSI, Dra Tri Iswardani A. MSi, Psikolog.

Namun, katanya, bila gejala tersebut menetap dan dengan intensitas yang tinggi untuk waktu yang lama, atau lebih dari tiga bulan, maka diperlukan Terapi Trauma yang bisa diberikan oleh Psikolog Klinis dengan spesialisi “trauma therapy”.

“Kami telah membentuk Call Center ‘Dukungan Psikologi QZ8501 di 085733885782. Keluarga dapat menghubungi nomor ini untuk mendapatkan bantuan psikologis dari Psikolog dari HIMPSI Jatim,” tambah Humas HIMPSI Jatim, Margaretha P.G.Dip.Psych MSc.(ant/bj02)