Home Lintas Jateng Hilal Tak Terlihat di Jepara

Hilal Tak Terlihat di Jepara

image

Jepara(16/6), beritajateng.net – Puluhan perukyat Kabupaten Jepara tidak melihat tampaknya hilal. Hilal tak dapat dilihat di Pantai Kartini Desa Bulu Kecamatan Kota karena faktor cuaca awan tebal.
 
Proses rukyatul hilal dimulai pada pukul 17.33 atau matahari mulai terbenam, Selasa (16/6). Rangkaian proses rukyatul hilal diakhiri dengan sidang yang dipimpin Kasrori ketua majelis sidang isbat.
 
“Apakah ada yang melihat kenampakan hilal,” tanya Kasrori pada peserta rukyat. “Tidak,” jawab puluhan peserta.
 
Dalam kesempatan itu, Kasrori menyatakan bahwa hasil ini dijadikan sebagai laporan yang bakal disampaikan pada Kementrian Agama Kabupaten Jepara. Selanjutnya akan diteruskan kepada Kementrian Agama RI.
 
“Hasil rukyatul hilal ini dan daerah lainnya akan dijadikan bahan pertimbangan Kementrian Agama RI untuk menentukan awal Ramadan. Sedangkan yang memiliki kewenangan menentukan tanggal satu Ramadan adalah Kementrian Agama RI dalam hal ini Menteri Agama setelah melalui sidang isbat dengan para ahli falak. Sedangkan kami hanya berwenang untuk melaporkan hasil rukyat,” tandasnya.
 
Dalam ilmu falak atau astronomi melalu melalui metode hisab (perhitungan), katanya, hilal memang tidak mungkin dapat dilihat hari ini (kemarin). Namun untuk membuktikan kebenaran metode hisab itu perlu dilakukan metode rukyatul hilal atau dengan mengamati hilal secara langsung.
 
Dikatakan rukyat tak dapat dilihat pada ketinggian minimal dua derajat edrajat. Dengan demikian, tidak mungkin ditentukan awal puasa tanpa melihat hilal.
 
Sementara itu, Ketua Ahmad Zabidi Zuhdi menyampaikan hilal berada di bawah ufuk. Di berbagai daerah tidak melihat hilal. Menurut catatan ketinggian hilal dari Badan Hisab dan Rukyat Kabupaten Jepara, posisi hilal berada pada ketinggian -02,26. Sedangkan menurut New Comb ketinggian hilal 02,05.
 
Ia menambahkan bahwa masyarakat disarankan untuk mencocokkan jadwal imsak dan berbuka. Sebab pada penyelenggaraan puasa tahun lalu kerap ditemui ketidak tepatan waktu berbuka.
 
“Pengalaman tahun lalu banyak yang berbuka kurang lima menit dari waktu semestinya. Bahkan acara berbuka itu dihadiri para kiai,” katanya.
Ia menyampaikan agar masyarakat mencocokkan waktu yang ada di rumah dengan waktu yang dirilis oleh Badan Meteorologu Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Hal itu untuk menyesuaikan waktu secara tepat. (BJ18)