Home News Update Hilal, Siswa Supel dan Tak Segan Tularkan Ilmu

Hilal, Siswa Supel dan Tak Segan Tularkan Ilmu

Semarang, 7/12 (BeritaJateng.net) – Hobi membaca dan bereksperimen melekat pada diri Muhammad Hilal Ariq, siswa kelas 5 SDN Pedurungan Tengah 02 Semarang. Sutikno, S.Pd., M.Pd selaku kepala sekolah SDN Pedurungan Tengah 02 Semarang mengaku sangat bangga kepada Hilal, sapaan akrab Muhammad Hilal Ariq. Hilal berhasil menyabet dua medali dalam ajang World Creativity Festival (WCF) 2015 di Korea Selatan.

Putra ketiga dari pasangan Ludy Bustomi (46) dan Richa Sulfiyanti (45) yang tinggal Jalan Mahesa Barat I nomor 32, Pedurungan Tengah, Semarang ini oleh Kemendikbud, dipasangkan dengan siswa kelas 4 SDN 1 Randegan, Banjarnegara Muhammad Iqbal Alviansyah untuk kolaborasi bakat sains dan seni.

“Saya satu kelompok dengan Muhammad Iqbal Alviansyah, dia pandai pantomim dan seni,” ujar Hilal saat ditemui di sekolahnya, Senin (7/12).

Selain lomba kelompok, Hilal yang juga jago menggambar dan mendapatkan medali emas kategori “The Winner of In-Contest Problem” ini bercerita tentang lomba individualnya.

“Saya belajar mulai dari sekolah membaca buku tentang eksperimen untuk mengetahui zat karbohidrat pada nasi. Nasi ditetesi dengan iodin, kemudian berubah menjadi biru kehitaman. Saya coba gunakan bahan-bahan lain. Akhirnya saya coba pada lemon ketika ditetesi iodin jadi bening. Saya cari tahu kenapa, ternyata iodin bereaksi dengan partikel lemon. Jadi partikel iodinnya berubah jadi ion,” ungkap bocah 11 tahun tersebut.

Bocah kelahiran Semarang, 22 Oktober 2004 yang gemar olahraga lari serta sepak bola ini mengaku belajar IPA secara otodidak, mandiri dan tidak mengikuti klub maupun bimbel. Dia mengikuti lomba sudah sejak usia play group.

“Di rumah, saya memiliki laboratorium kecil. Bapak dan Ibu saya berperan mendidik sejak kecil tentang IPA,” ujarnya.

Putra dari Ayah yang bekerja sebagai wiraswasta dan Ibunya sebagai Ibu rumah tangga ini ingin membanggakan orang tua, keluarga serta sekolahnya.

Mulai dari mengikuti lomba World Creativity Festival hingga mengundangnya ke Jakarta. Tahap demi tahap dilaluinya, seperti performance di budaran HI, sampai membahas presentasi di Korea Selatan.

Hilal juga berkeinginan saat lulus dari bangku sekolah dasar, bisa masuk di SMP N 2 Semarang. Sutikno, S.Pd., M.Pd, sebagai kepala sekolah memberikan dorongan supaya Hilal tidak berhenti belajar.

“Harapannya setelah lulus nanti, Hilal bisa mendapatkan sekolah yang diinginkan serta bisa menampung dan mengembangkan cita-citanya. Karena saat saya tanya, cita-citanya ingin menjadi Fisikawan,” tuturnya.

Sutikno juga berencana, karena Hilal masih duduk di bangku kelas 5, maka dia dijadikan sebagai pembimbingan tutorial sebaya dengan teman-temannya.

“Bahkan tim kami juga sudah mengumpulkan anak-anak mulai dari kelas 3-4. Harapannya, dengan adanya tutorial sebaya ini bisa menularkan ilmu kepada adik kelas Hilal,” imbunya.

Sutikno menilai, Hilal merupakan siswa yang pintar, supel, dan selalu akrab dengan teman-temannya. Menurutnya, Hilal tidak segan mengajari teman-temannya yang ingin maju.

“Daya juangnya sangat tinggi. Membaca buku bisa cepat selesai, bahkan buku baru di perpustakaan tidak ada 30 menit sudah selesai dibacanya,” tutur Sutikno saat ditemui di ruang kepala sekolah, Senin (7/12).

Hilal sudah memiliki potensi, sayang bila tidak disalurkan, lanjutnya. Sebagai juara nasional, Hilal tidak mungkin ikut lomba lagi maka harus ditularkan kepada adik-adik kelasnya. Sekolah membantu dalam informasi lomba. Sekolah yang mengantarkan siswanya mengikuti lomba Matematika hingga ke India pada tahun 1990 ini juga merupakan awal pendidikan dari Putri Indonesia 2015, Anindya Kusuma Putri.

“Selalu berkeinginan ada tim kami yang menelurkan Hilal-Hilal lain baik di bidang ilmuwan, pengetahuan, olahraga dan seni,” ujar Sutikno.

Sutikno menjelaskan jika peran dan frekuensi orangtua lebih besar dalam membimbing Hilal. Sekolah tidak bekerja sendiri. Sutikno menambahkan bentuk dukungan dan motivasi dari sekolah untuk Hilal, salah satunya melalui upacara.

“Begitu pulang dari Korsel saat upacara Hari Sumpah Pemuda, saya meminta Hilal menjadi pembina upacara. Dia menyampaikan amanat menggunakan dua bahasa, yakni bahasa Inggris dan Indonesia yang isinya kesan pesannya selama mengikuti lomba di Korsel,” pungkas Sutikno. (BJT01)