Home News Update Hevearita Dorong Pembentukan Perda Untuk Kaum Difabel

Hevearita Dorong Pembentukan Perda Untuk Kaum Difabel

Ita melihat secara lansung salah satu tuna netra Sofyan membaca Alquran Braile.
Ita melihat secara lansung salah satu tuna netra Sofyan membaca Alquran Braile.
Ita melihat secara lansung salah satu tuna netra Sofyan membaca Alquran Braile.

Semarang, 4/11 (BeritaJateng.net) – Calon wakil wali kota Semarang nomor urut 2, Hevearita Gunaryanti Rahayu mendorong terbentuknya Peraturan Daerah (Perda) bagi kaum Difabel atau memiliki gangguan fungsi tubuh di Kota Semarang.

“Masyarakat difabel memiliki hak yang sama dengan warga normal lainnya, selama ini banyak kaum difabel yang terpinggirkan dan belum dirangkul masyarakat khususnya dalam sektor pembangunan. Untuk itu, kami Hendi-Ita berkomitmen ingin memfasilitasi kebutuhan difabel dan melibatkan mereka dalam pembangunan,” ujar Ita– sapaan akrab Hevearita.

Perempuan berciri khas kemeja putih dan kerudung merah ini menegaskan komitmennya saat mengunjungi Yayasan khusus kaum difabel Sahabat Mata di Jalan Jatisari Asabri D6/35 Semarang.

“Sebelum mencalonkan diri, saya juga mengelola yayasan sosial, tentunya hal ini semakin membuka mata bahwa semua makhluk dimuka bumi ini memiliki hak dan kewajiban yang sama,” katanya.

Menurutnya, pemerintah kota Semarang dalam hal ini Dinas Sosial, Dinas Perhubungan, Dinas Pendidikan dan Agama serta dinas lainnya harus saling terintegrasi dalam satu sistem melibatkan kaum difabel dalam pembangunan.

“Seperti pembangunan trotoar, seharusnya disertai jalur khusus untuk kaum difabel. Pengadaan kitab suci Braile, dan angkutan ramah difabel juga harus ada,” ujar calon wakil wali kota yang diusung partai PDI Perjuangan, Partai Demokrat, Partai Nasional Demokrasi (Nasdem), PPP, Hanura dan PKPI ini.

Bukan hanya itu, lanjut Ita, kaum difabel juga harus mendapatkan fasilitas yang sama dibidang kesehatan dan pendidikan. “Kami berencana menganggarkan Jamkesmaskot hingga 40 miliar pada tahun 2016 nanti, sehingga diharapkan segala fasilitas kesehatan ini bisa dirasakan semua lapisan masyarakat,” kata Ita.

Ita melihat pengoperasian Radio Sahabat Mata "SAMA FM"
Ita melihat pengoperasian Radio Sahabat Mata “SAMA FM”

Dari sektor pendidikan, imbuh Ita, sekolah inklusi juga harus diperhatikan. Kesamaan hak itulah yang mendorong Ita, untuk peduli dan bergerak memperjuangkan nasib kaum difabel melalui Perda.

“Kita harus mengikutsertakan mereka dalam pembangunan. Mereka memang punya kelemahan, namun juga punya kelebihan seperti pengoperasian komputer, radio dan membuat kegiatan positif yang bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Sahabat Mata Basuki menjelaskan selama ini cukup terbantu dengan berbagai fasilitas ramah difabel, seperti fasilitas parkir khusus difabel di area Balaikota Semarang hingga adanya moda transportasi BRT Trans Semarang yang ramah difabel.

“Memang sudah ada perhatian dari pemerintah, namun belum semuanya terasa. Seperti pembangunan trotoar, harusnya memperhatikan kaum difabel agar kami tidak kesulitan jika bepergian,” lanjut Basuki yang juga seorang Tuna Netra. (Bj)