Home News Update Hendi-Ita Junjung Tinggi Nasionalisme-Religius Dalam Pecahkan Persoalan SARA

Hendi-Ita Junjung Tinggi Nasionalisme-Religius Dalam Pecahkan Persoalan SARA

P_20150917_205842

Semarang, 18/9 (BeritaJateng.net) – Pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Semarang Hendrar Prihadi – Hevearita Gunaryanti Rahayu “Hebat” berkomitmen menjunjung tinggi Nasionalisme-Religius dalam menyelesaikan persoalan suku, ras, etnis dan agama di Kota Semarang.

“Persoalan suku, ras, etnis dan agama adalah hal yang harus kita bungkus rapi agar tidak menjadi perbedaan mendasar tapi justru menjadi kekuatan,” ujar Hendi–sapaan akrab Hendrar Prihadi usai sosialisasi dan kampanye dialogis Hendi-Ita di Perkoempoelan Sosial Boen Hian Tong (Rasa Dharma) Jalan Gang Pinggir 31-31A Semarang.

Nasionalisme-religius secara istilah berarti paham kebangsaan yang meletakkan esensi keagamaan sebagai sendi kehidupan bernegara sebagai tujuan. Fenomena istilah ini sering dilekatkan pada partai-partai.

“Kami diusung dari partai PDI Perjuangan, partai yang menekankan pada unsur nasionalisme, dan didukung partai PPP yang berlandaskan religius, bahkan ada anggota dewan Ibu Trifena Weyatin Soehendro dari PDI Perjuangan yang berasal dari etnis thionghoa,” tutur calon wali kota Semarang nomor urut 2 ini.

Hendi menekankan, jika nantinya terpilih kembali memimpin kota Semarang, pihaknya berkomitmen persoalan sara tidak akan muncul di kota Semarang.

“Kita melindungi warga kota Semarang untuk beribadah sesuai keyakinannya, kita melindungi warga kota Semarang untuk mempertahankan tradisi dan budayanya. Semarang ini kan plural, berbagai unsur agama, etnis, termasuk keturunan Tionghoa tinggal di sini. Di kawasan Pecinan misalnya, banyak warga keturunan Tionghoa,” beber Hendi.

Senada dengan itu, calon wakil wali kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu atau yang akrab disapa Ita mengatakan keberadaan etnis keturunan Tionghoa merupakan bagian dari Kota Semarang yang memiliki kontribusi besar dalam pembangunan Kota Atlas, terutama dalam perekonomian.

Makanya, kata dia, keberadaan “China Town” atau Pecinan di Kota Semarang harus dipertahankan, bahkan kalau perlu direvitalisasi karena potensinya yang besar sebagai destinasi wisata unggulan.

“Revitalisasi tidak perlu mengubah desain, namun bagaimana lebih memperindah kawasan ini sebagai potensi wisata unggulan. Kegiatan-kegiatan di Pecinan harus lebih diperbanyak,” katanya.

Ita mencontohkan Semawis, yakni pasar kuliner yang sudah rutin digelar di Pecinan Semarang ternyata menjadi daya tarik bagi wisatawan, kemudian berbagai kegiatan keagamaan yang di kelenteng-kelenteng.

“Yang jelas, visi-misi kami bersifat nasionalis-religius. Tidak membeda-bedakan satu dan lainnya, termasuk dalam perizinan, dan sebagainya. Kondusivitas dan kerukunan harus dijaga,” pungkasnya. (Bj05)