Home News Update Hendi – Ita : Bukan Penggusuran PKL Melainkan Penataan dan Relokasi

Hendi – Ita : Bukan Penggusuran PKL Melainkan Penataan dan Relokasi

527

IMG_8262

Semarang, 27/8 (BeritaJateng.net) – Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Semarang yang di usung PDIP, Demokrat dan Nasdem, Hendrar Prihadi-Hevearita Gunaryati Rahayu mendapat nasihat dari Ketua Paguyuban Pedagang Kali Lima (PKL) Semarang Zaenal Abidin Petir. Jika para PKL adalah sektor informal yang menghidupkan roda perekonomian masyarakat.

“Pemerintah tidak udah njanjeni, mereka sudah bisa menghidupi sendiri tanpa harus meminta bantuan. Yang dibutuhkan adalah koordinasi dan komunikasi bagaimana menata mereka,” ujar Zainal Abidin Petir, disela Halal Bi Halal dan Silaturahmi Tokoh Masyarakat Bulu Lor, di Jl. Pergiwati I Bulu Lor Semarang.

Acara juga diisi tausiyah oleh KH. Duri Ashari dengan disimak seribuan pengunjung yang terdiri dari komunitas PKL Karimata, PKL Pasar Bulu, PKL Kokrosono, Komunitas Aerobik Mania, Studi Tilawatil Alquran Masjid Baiturahman (Stiqbas), dan Komunitas Ikatan Tuna Netra Muslim Indonesia (ITMI) ini berharap ada kebijakan yang mengakomodir mereka agar lebih nyaman dalam menjalankan usahanya.

“Mereka sudah bisa menghidupi ribuan orang dan jangan dioyak-oyaki lagi,” tambahnya.

Hendi, sapaan Hendrar Prihadi menjawab dengan visi misi dimana akan menata dan merelokasi para PKL sesuai peruntukannya. Jika adanya keinginan para PKL dan komunitas lainnya adalah hal yang wajar, ia menilai itu sebuah kritik dan penyegaran bagi semuanya, menunjukan di dunia khususnya Semaramg sudah sangat dinamis.

“Ada sebuah komitmen dari pasangan Hendi-Ita, pemberdayaan PKL sebagai prioritas, keberadaannya sangat membantu mulai dari pengurangan pengangguran, penyerapan tenaga kerja, dan ada perputaran ekonomi cukup besar.  Prioritasnya adalah bagaimana teman-teman PKL bisa berjualan dengan nyaman dan tidak menimbulkan persoalan dengan masyarakat lain,” terang Hendi.

Hendi juga mengutarakan jika konsepnya bukan sebuah aktifitas penggusuran melainkan penataan dan relokasi. Para PKL akan diajak rembug bersama untuk bagaimana baiknya. “Artinya teman-teman PKL adalah kelompok yang harus dilindungi dalam berjualan di Semarang,” tandasnya.

Ia mencontohkan, seperti di Tlogosari sebagai daerah larangan PKL lantaran menempati bantaran sungai. Namun tak dipungkiri mereka sangat hidup disana bahkan masyarakat sekitar juga sangat membutuhkan. “Pemerintah waktu itu sudah menetapkan anggaran Rp.3,5 miliar untuk membuat penampungan yang sudah sangat nyaman dan layak bagi PKL,” terangnya.

“Jadi sifatnya tidak mematikan mereka tapi kita berupaya suport agar tumbuh berkembang lebih baik,” tukas Hendi.

Sementara, Mbak Ita sapaan Hevearita Gunarati menambahkan, tak hanya PKL saja yang mejadi prioritas. Ada keinginan dari komunitas Tuna Netra Muslim Indonesia yang juga ingin difasilitasi dalam memberdayakan mereka.

“Meski keterbatasan indra penglihatan, keahlian mereka memijat sangat diapresiasi. Kita akan sinergikan mereka dengan Dinas Sosial dan Dinas Tenaga Kerja agar ada sentra panti pijat yang bisa mengakomodir mereka,” tambahmya.

Bisa jadi, lanjut Mbak Ita, para pemilik usaha pijak refleksi yang besar untuk bisa menampung mereka karena keahliannya tak kalah dengan mereka yang normal penglihatan. (Bj)

Advertisements