Home Headline Hendi Akui ada Pertemuan Perihal Kasus Kolam Retensi

Hendi Akui ada Pertemuan Perihal Kasus Kolam Retensi

Semarang, 12/1 (BeritaJateng.net) – Hendi menyatakan jika dirinya tidak terlibat secara langsung dalam proyek pembangunan kolam retensi Muktiharjo Kidul senilai Rp 33,72 miliar dari APBD Kota Semarang.

Pernyataan tersebut tertera dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) mantan walikota Semarang Hendrar Prihadi atau yang akrab disapa Hendi.

Sesuai aturan yaitu Pedoman Penggunaan Anggaran Daerah, pelaksanaan proyek senilai Rp 33,7 miliar itu telah dilimpahkan ke pengguna anggaran yaitu Kepala Dinas PSDA-ESDM, Nugroho Joko Purwanto.

Menurut BAP Hendi, proyek pembangunan kolam retensi tersebut muncul dalam KUPPAS hasil pembahasan oleh TAPD yang diketuai oleh Sekda. Sebagai Walikota, ia menyatakan hanya sekedar menyetujui untuk selanjutnya diajukan ke DPRD untuk disahkan dalam paripurna.

Tak hanya itu, Hendi juga membantah jika telah memerintahkan panitia penerima hasil ‎pekerjaan (PPHP) untuk menandatangani berita acara penerimaan pekerjaan meski diketahui pekerjaan kolam retensi belum rampung 100 persen.

Hanya saja ia mengakui jika beberapa kali telah bertemu dengan Kepala Dinas PSDA ESDM Nugroho Joko Purwanto dan Tri Budi Purwanto Komisaris PT Harmoni Internasional Technology/ rekanan terkait proyek itu.

Dalam BAP, Hendi telah melakukan pertemuan sebanyak tiga kali di hotel Dalu.

“Pada Desember 2014, Nugroho dan Tri Budi menemui saya. Mereka mengkoordinasikan terkait keterlambatan pekerjaan. Namun, Tri Budi yakin bisa menyelesaikan pekerjaan. Caranya dengan menambah tenaga kerja,” ucapnya.

Namun pada pertemuan ketiga, dilakukan pembahasan bersama banyak orang yang terlibat dalam proyek terkait sistem pembayaran. Padahal pekerjaan proyek belum selesai.

“Ada usulan perpanjangan waktu 50 hari, kemudian dibayar sesuai pekerjaan yang diselesaikan. Namun saat itu ada perbedaan pandangan terkait prosentase. Pihak rekanan menghitung adanya mesin pompa dalam progres, tetapi pihak PSDA tidak menghitung karena pompa belum terpasang,” lanjutnya.

Setelah menemui perdebatan yang cukup alot dan tidak menemui titik temu dalam pertemuan tersebut, Hendi kemudian berkoordinasi dengan Kepala Kejari Semarang Asep Nana Mulyana terkait aturan pembayaran. Oleh Kajari Asep, pekerjaan yang belum terpasang tidak bisa dibayarkan.

“Saya sampaikan kepada semua yang hadir saat itu. Selanjutnya, karena saya tidak tahu menahu soal pekerjaan kolam retensi maka saya tidak ikut campur lagi. Saya juga tidak mengatur pembayaran 97 persen pekerjaan,” tutup Hendi dalam BAP.

Sebelumnya, Hendi kembali mangkir dalam panggilan persidangan proyek pembangunan kolam retensi Muktiharjo Kidul sebagai saksi. Oleh karena itu, hanya disampaikan berita acara pemeriksaan (BAP) Hendi.

Dalam persidangan, Hendi diagendakan untuk menjadi saksi untuk perkara dengan terdakwa Tri Budi Purwanto dan Handawati Utomo, Komisaris serta Direktur PT Harmoni International Teknologi (HIT), serta terdakwa Nugroho Joko Purwanto dan Rosyid Hudoyo, mantan Kepala dan Sekretaris Dinas PSDA-ESDM Kota Semarang, Tyas Sapto Nugroo, Direktur CV Prima Design (pengawas) serta Imron Rosadi, Direktur CV Catur Eka Karsa.

Namun karena alasan masih mengikuti Rakernas PDIP, Hendi tak bisa hadir dalam persidangan. (Bj)