Home Headline Hati-hati, Kecanduan Gawai Bisa Jadi Gila

Hati-hati, Kecanduan Gawai Bisa Jadi Gila

260
Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Amino Gondohutomo Semarang.

SEMARANG, 19/11 (BeritaJateng.net) – Psikolog Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Dr Amino Gondohutomo Semarang, Sri Mulyani mengatakan orang yang ketergantungan gawai dalam jangka waktu lama dan berkelanjutan, dapat digolongkan ke dalam Diagnostic and Statistical of Mental Disorders (DSM) yakni mengalami gangguan mental. Hal itu terjadi bila dirinya sampai tidak mau atau melalaikan kegiatan lain karena keasyikan bermain gawai.

Perilaku tersebut, kata dia, bisa terjadi akibat kecanduan bermain game atau game disorder. Imbasnya, aktivitas hidup sehari-hari lainnya menjadi terbengkalai. Misalnya saja tidak mau sekolah, tidak mau belajar, menunda waktu makan, hingga jam tidur kurang.

”Tanda-tandanya kecanduan game seperti, dia menghabiskan waktunya hanya untuk game, sulit berhenti saat sudah memegang gawai, dan merupakan usaha untuk melupakan masalah yang ada. Selain itu, aktivitas ini bisa mengakibatkan dirinya kehilangan hubungan, kerja, dan pendidikannya. Bahkan, dapat cenderung untuk melakukan penipuan atau kejahatan demi memuaskan keinginannya untuk bermain game,” ujar dia.

Hanya saja, Sri Mulyani menyebut, kecanduan game bukan satu-satunya penyebab gangguan kejiwaan. Biasanaya ada faktor penyebab lain seperti kondisi kejiwaan atau penyakit yang mendukung, sehingga orang tersebut menjadi kecanduan game.

Seperti depresi, mengalami Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), Bipolar, gangguan cemas, gangguan obsesif kompulsif atau Obsessive Compulsive Disorder (OCD), hingga penyalahgunaan alkohol.

”Bisa juga karena perhatian orang tua yang kurang terhadap anak. Membiarkan anak untuk bermain gawai, sehingga menjadi kecanduan. Biasanya baru diketahui setelah anak tersebut susah untuk dihentikan agar tidak bermain game. Tidak jarang kemudian baru dikonsultasikan ke sini,” ungkap dia.

Sementara itu, Kepala Humas RSJD Amino Gondohutomo Semarang Ririn Dwi Apsari, menerangkan jika rumah sakit tersebut pada Oktober 2019 telah merawat delapan orang akibat kecanduan game.

Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan, pasien dinyatakan mengalami depresi, gangguan cemas, bahkan sempat mengkonsumsi Narkoba, Psikotropika, dan Zat Adiktif (Napza).

”Rata-rata pasien berusia delapan hingga 20 tahun, berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan latar belakang golongan ekonomi,” papar dia.

Adapun tindakan medis yang dilakukan pihak RSJD Dr Amino Gondohutomo Semarang, lanjut dia, dengan memberikan terapi obat atau farmakoterapi. Dilakukan saat rawat inap, dilanjutkan dengan minum obat secara rutin setelah pulang ke rumah. Itu karena penyembuhan kecanduan gawai memerlukan waktu yang cukup panjang sehingga tidak cukup dengan rawat inap.

”Untuk mencegah agar kejadian seperti ini tidak terulang, kami menyarankan agar pasien mengatur dan bisa membagi waktunya. Antara dunia game dan dunia nyata. Mereka juga harus menetapkan, kapan saat bermain game dan kapan menjalankan aktivitas lainnya,” terang dia. (El)