Home Ekbis Harga Ikan Anjlok, Nelayan Kendal Terpuruk

Harga Ikan Anjlok, Nelayan Kendal Terpuruk

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

Kendal, 20/11 (Beritajateng.net)- Turunnya harga ikan yang dibarengi dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar membuat nelayan di Kabupaten Kendal memilih untuk tidak melaut. Keputusan tersebut mereka ambil karena tingginya biaya operasional tidak sesuai dengan pendapatan yang mereka peroleh. Para nelayan lebih memilih untuk memperbaiki perahu dan jala mereka, untuk mengisi kegiatan sehari-hari.

Seperti yang terjadi di Desa Gempolsewu Kecamatan Rowosari Kendal pada Kamis (20/11) siang. Dari pantuan Beritajateng.net, sebagian besar kapal nelayan di kawasan tersebut hanya bersandar. Sedangkan nelayan nampak menghabiskan waktu dengan memperbaiki jala.

Kepala Desa Gempolsewu, Heri Mardiyanto, menjelaskan warganya lebih memilih berada di rumah sejak kenaikan harga BBM. Hal tersebut karena biaya operasional bertambah tinggi.“Sudah biaya operasional mahal, malah harga ikan turun. Jelas ini tidak menguntungkan bagi nelayan. Maka mereka lebih memilih beraktifitas di rumah untuk sementara, sembari menunggu harga ikan kembali normal,” ujarnya.

Heri khawatir perekonomian warganya yang sebagian besar nelayan akan semakin terpuruk. Hal ini dikarenakan satu bulan kedepan, merupakan musim paceklik nelayan sebagai akibat dari musim penghujan.“Seharusnya ada tindakan khusus dari dinas terkait untuk dapat menormalkan harga ikan,” paparnya.

Pengurus Forum Nelayan Gempolsewu, Sugeng, menyampaikan bahwa penurunan harga tangkapan ikan laut cukup drastis. Salah satunya ikan tongkol yang turun hingga Rp6 ribu per kilogram. “Ikan tongkol tadinya Rp15 ribu sekarang menjadi Rp9 ribu perkilogram. Rajungan yang sebelumnya harganya Rp50 ribu menjadi Rp40 ribu, udang dari Rp90ribu kini Rp75 ribu dan unus kini hanya Rp30 ribu perkilogram. Ini cukup memberatkan bagi kami. Terlebih ditambah dengan naiknya harga solar,” ungkapnya.

Padahal, lanjut Sugeng, jika menggunakan perahu kecil membutuhkan solar hingga 40 liter setiap melaut. Sedangkan untuk kapal besar bisa mencapai 60liter. “Jika melaut dan dapat ikan banyak tetapi harganya jatuh, tentunya sangat merugikan untuk nelayan. Apalagi kalau kita tidak mendapatkan ikan sama sekali,” terangnya. (DK/pj)