Home Ekbis Harga Cabai di Kupang Tembus Rp100 Ribu

Harga Cabai di Kupang Tembus Rp100 Ribu

image
Ilustrasi

Kupang, 4/1 (Beritajateng.net) – Harga cabai di sejumlah pasar tradisional Kota Kupang, Nusa Tenggara Barat, terus melonjak kini mencapai Rp100 ribu per kilogram, dari November 2014 sekitar Rp60 ribu dan awal bulan berikutnya naik berkisar Rp70-Rp80 ribu/kg.

Harga cabai di pasar tradisional Kota Kupang selama Desember 2014 berfluktuasi dengan harga terendah sekitar Rp60.000 per kilogram pada awal Desember kemudian melonjak Rp70.000 per kilogram,” kata Sulaiman, distributor cabai untuk Kota Kupang, di Kupang, Minggu.

Bahkan terakhir dalam pekan ini katanya harga cabai sekitar Rp80.000 per kilogram, tiba-tiba awal 2015 melonjak hingga Rp100.000/kilogram, sehingga membuat konsumen resah dan mengurungkan niat untuk berbelanja komoditas ini.

Ia mengatakan melonjaknya harga cabai di sejumlah pasar dalam Kota Kupang ini disebabkan permintaan dari konsumen tinggi sementara stok di gudang terbatas.

Terbatasnya persediaan cabai distribusi yang tidak lancar dari hulu ke hilir, selain biaya produksi yang kina tinggi dari waktu ke waktu karena perhitungannya mulai dari alur pengolahan tanah panen.

Jadi menurut Sulaiman naiknya harga cabai itu diduga selain karena permintaan tinggi yang tidak diimbangi dengan pasokan yang lancar, juga akibat biaya produksi cabai yang cukup tinggi.

“Bayangkan cabai ini tiba di Kupang, setelah melalui alur mulai dari pengolahan tanah, pembelian bibit, pemupukan dan perawatan hingga panen untuk 3.000 pohon cabai membutuhkan biaya lebih dari Rp5 juta,” katanya.

Padahal, menurut dia, tidak semua pohon bisa berbuah secara maksimal dan buahnya juga tidak bisa baik semua.

Kalau tidak terserang hama dan tidak ada pohon yang mati, lanjutnya, hasil panen 3.000 batang pohon rata-rata mencapai satu ton.

“Jadi kalau harganya di bawah Rp10.000 per kg, hitungannya petani rugi. Karena saat panen petani masih mengeluarkan biaya untuk membayar tenaga pemanen dan ongkos kendaraan untuk mengangkut cabai ke pasar yang nilainya mencapai ratusan ribu,” jelasnya.

Senada dengan Sulaiman, Ismael (25) pedagang Cabai di Pasar Oebobo Kota Kupang itu mengatakan kenaikan juga terjadi pada cabai merah kecil yaitu dari Rp35.700 menjadi Rp46.700, atau mengalami kenaikan hingga 52,86 persen.

“Saya memperkirakan, harga ini akan tetap bertahan hingga awal tahun 2015, karena pasokan terhambat cuaca ekstrem yang ikut menghambat pasokan,” katanya.

Dia mengaku, takut untuk menyimpan (menimbun) cabai rawit dalam jumlah banyak, melainkan sesuai dengan kebutuhan konsumen di pasar tersebut.

“Perubahan harga cabai terjadi sewaktu-waktu, bisa harian bahkan dalam hitungan jam, sehingga saya khawatir mengambil banyak persediaan karena saat ini harganya tidak stabil,” ujarnya pula.

Apalagi kami masih mengandalkan pasokan cabai dari petani lokal, mengingat kualitasnya terbilang lebih baik namun harganya di tingkat petani cukup tinggi Rp50.000/kg.

Tingginya harga cabai, membuat pedagang eceran di pasar dan tempat penjualan lainnya membagi cabai dalam ukuran kecil yang dijual antara Rp5.000 hingga Rp10.000 per kumpul dengan harapan cepat terjual. “Kalau jual cabai dalam ukuran kilogram sangat mahal sehingga tidak laku,” ujarnya.

Ia mengatakan salah satu imbas penaikan harga cabai ialah naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) serta petani beralih dari sebelumnya menanam cabai di lahan persawahan, kini memanfaatkan lahan tersebut untuk ditanami padi.(Ant/Bj02)

Advertisements