Home Headline Hafid WNI Yang Hilang di Turki, Dikenal Supel

Hafid WNI Yang Hilang di Turki, Dikenal Supel

Ketua RT Gajahan menunjukkan kartu keluarga WNI yang hilang di Turki.
Ketua RT Gajahan menunjukkan kartu keluarga WNI yang hilang di Turki.
Ketua RT Gajahan menunjukkan kartu keluarga WNI yang hilang di Turki.

Solo, 8/3 (BeritaJateng.net) – Ketua RT Ketua RT. 4/1 Kelurahan Gajahan, Priyono membenarkan jika lima orang warga yang di duga hilang di Turki sesuai dengan alamat yang tercatat di Kartu Keluarga (KK) pernah tinggal di lingkungan tersebut.

Priyono menjelaskan meski KKnya masih menggunakan alamat di Gajahan, namun sebenarnya mereka sudah tidak tinggal di situ lagi, sudah pindah sejak tahu 2010 lalu. 

“Secara administratif Kartu Keluarga mereka masih tercatat di kelurahan Gajahan. Namun sebenarnya mereka sudah sejak lama pindah dari Gajahan. Mereka pindah ke wilayah Sukoharjo,” jelasnya ketika di temui di rumahnya Minggu (8/3/2015).  

Menurut Priyanto, kelima orang tersebut masih memiliki hubungan keluarga, yaitu Hafid Umar Babher (32), istrinya Soraiyah Cholid, dan kedua anak mereka Hamsah Hafid (6) dan Utsman Hafid (4). Sedangkan satu orang lagi adalah  Fauzi Umar (36), dia kakak dari Hafid Umar Babher.

Priyanto juga menerangkan jika anak Hafid sebenarnya ada tiga, namun baru dua yang tercatat dalam kartu keluarga. Mungkin karena satunya masih bayi, jadi belum sempat di daftarkan.

Lebih lanjut Priyono menjelaskan keluarga Umar (ayah Hafid) menyewa rumah di Jl. Nogogini sejak tahun 1993. Saat Hafid dan kakaknya masih kecil-kecil sebelum akhirnya pindah pada 2010 lalu

“Kayanya sejak tahun 1993, mereka tinggal di sini, menyewa di jl. Nogogini,” jelas Priyono ketika di temui di rumahnya di Solo Jawa Tengah, (8/3/2015).

Menurut Priyono, keluarga Hafid termasuk orang yang ramah, supel dan mudah bergaul. Bahkan rajin mengikuti kegiatan di lingkungannya.

Priyono menegaskan kesehariannya  Hafid anaknya baik, juga ramah pada warga sekitarnya. Kegiatan pengajian yang diikuti juga pengajian rutin warga di sekitar lokasi rumah mereka. 

“Ayah Hafid yakni pak Umar, meski saat ini sudah pindah dari sini masih sering mengikuti acara kumpul warga setiap bulannya,” terangnya.

Priyono mengaku terakhir bertemu Hafid sekitar enam bulan lalu saat membuat surat penawaran untuk di masukkan ke instansi-instansi di rumah Priyono. 

“Terakhir ketemu enam bulan lalu, saat Hafid minta tolong mengetikkan surat penawaran. Kebetulan saya membuka jasa pengetikan dan setting,” ungkap Priyono. 

Priyono juga mengaku tidak tahu jika  Hafid pergi ke luar negeri. Karena tidak pernah meminta surat pengantar dari RT untuk mebuat paspor.

“Pasalnya sejak pembuatan paspor di permudah pelayanannya, tidak perlu menggunakan lagi surat pengantar dari RT/RW seperti sebelumnya,” ungkapnya. 

Priyono baru tahu jika Hafid hilang sejak di datangi petugas untuk menanyakan surat-surat Hafid dan keluarganya, seperti kopian Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK).

“Tahunya Hafid hilang sejak beberapa    petugas dan wartawan yang datang untuk menanyakan tentang Hafid,” pungkasnya. (BJ24)

Advertisements