Home Ekbis Hadapi MEA Dituntut Kreatifitas

Hadapi MEA Dituntut Kreatifitas

Semarang, 9/1 (BeritaJateng.net) – Pertarungan bagi Perguruan Tinggi (PT) di masyarakat menjadi perhatian serius baik dari faktor luar maupun dalam. Faktor dari dalam didominasi oleh pengangguran yang sebagian besar merupakan lulusan sarjana.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi AKA (STIE AKA) mencetak generasi yang cerdas, berinovasi dan berpikir secara global. Hal ini disampaikan Ketua STIE AKA, Drs. Suyatno., MM saat membuka seminar dengan tema ‘Tantangan Sukses Berkarir di Era MEA’ di Aula Kampus Soko Tunggal, Jalan Citarum No. 44 Semarang, Sabtu (9/1) siang.

Seminar ini diselenggarakan oleh STIE AKA dan Training & Placement Center Anugerah Karya Abadi, Link & Match Training for Job Placement. Ada 12 PT di Semarang yang menjadi peserta dalam acara ini, seluruhnya merupakan mahasiswa, seperti Unisbank, USM, Unwahas, Unissula, Unimus, Udinus, STIE Semarang, Upgris, IKIP Veteran, dan masih banyak lagi yang totalnya 300 peserta.

Suyatno berharap mahasiswa tidak lagi berpikir apa yang harus dilakukan tetapi apa yang harus dikerjakan.

“Ini tantangan di era globalisasi. Jangan sampai ilmu yang ditularkan dosen selama empat tahun kepada mahasiswa sia-sia dan tidak bisa diaplikasikan,” tuturnya.

Ia menjelaskan STIE berbeda dengan Universitas, karena lebih banyak menerapkan praktik. Dengan begitu mahasiswa diharapkan tahu persis kondisi yang ada di lapangan supaya mampu bersaing.

“Dengan adanya seminar dan mendatangan paguyuban HRD se-Jawa Tengah ini mahasiswa bisa belajar sehingga kelak ketika sudah lulus memiliki kompetensi. Jangan sampai kita ikut andil menjadi pengangguran di Indonesia,” ujarnya.

Suyatno juga mengatakan seminar ini mewujudkan link & match dalam mendapatkan informasi bagi mahasiswa sehingga bisa diterima dalam dunia kerja.

“Mudah-mudahan tidak hanya berhenti sampai di sini, melainkan ada ‘follow up’ yang riil,” imbuhnya.

Dalam seminar ini juga menghadirkan narasumber dari Sekretaris Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Jawa Tengah, Guru Besar Sumber Daya Manusia yang membahas materi ‘Menyiapkan Karakter SDM Berdaya Saing’ oleh Prof. Dr. Y Sutomo., MM.

Adapula dari Ketua Paguyuban HRD Perusahaan se-Jawa Tengah yang membahas materi ‘Link and Match Sebagai Solusi Kebutuhan SDM dengan Pendidikan’ oleh Guno Parwoto.

“Di dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), situasi sesulit apapun dapat diatasi jika tahu caranya. Jangan khawatir mengahadapi MEA yang penting mempersiapkan diri dan terus belajar,” terang Tri Joko., SH., MM selaku Perwakilan HRD PT. Sinar Sosro, Sabtu (9/1) siang.

Menurutnya, Pendidikan dan Paguyuban HRD hadir disini ingin mencari solusi serta mengubah mindset masyarakat yang menganggap mencari kerja itu susah.

“Saya pindah kerja sudah enam kali dan saat ini bisa berbagi pengetahuan dengan adik-adik. Saya tidak lagi mencari pekerjaan,” tutur Tri.

Bagaimana Industri menghasilkan lulusan yang pas, bukan menjadi pekerja akan tetapi pengusaha.

“Lebih mengembangkan aspek kinestetik daripada aspek visual dan auditori itulah yang harus terus kita gali,” imbuhnya.

80 persen orang sukses bukan karena IPK atau prestasi akademiknya melainkan karena kemampuan non akademik.

“Jadilah lulusan yang tidak dikarantinakan oleh ilmunya sendiri,” ujar Guru Besar Sumber Daya Manusia, Sutomo saat mengawali materinya.

Ada PT yang menggagas sebelum lulus sudah bekerja dan semester 8 wisuda, menurut Sutomo ini merupakan terobosan yang sangat bagus.

Sutomo menjelaskan jika karir merupakan serentetan jabatan yang didapatkan selama bekerja. Bila ingin maksimal harus memiliki karakter yang baik.

“Sukses ditentukan oleh 20 persen hard skill, sedangkan 80 persennya ditentukan oleh softskill,” paparnya.

MEA

MEA merupakan lapangan terbesar perusahaan maupun SDM asing, mereka bisa dengan mudah ikut terlibat di dalamnya.

“Sebuah perusahaan ditentukan oleh Leadernya. Sebanyak 4.600 Perguruan Tinggi di Indonesia masalahnya ada pada tanggung jawab dan rasa hormat,” terang Sutomo.

Secara profesional, bekerja dipengaruhi oleh kualitas kerja, knowledge, skill, kompetensi, talenta dan etos kerja. Semuanya menentukan sukses atau tidaknya seseorang dalam bekerja.

Senada dengan Sutomo, Guno Parwoto selaku Ketua Paguyuban HRD Perusahaan se-Jawa Tengah mengungkapkan jika kebanyakan dari kita terlalu terkungkung dengan ilmu yang didapat sewaktu kuliah.

Selain itu juga terkendala masih banyak yang berpandangan bahwa kerja keras itu menyusahkan.

“Masyarakat kita inginnya instan, menang audisi dapat hadiah mobil 150 juta. Setelah itu tidak mampu membayar pajak, mobilnya dijual lagi. Untuk mengatasi masalah, kita harus kompromi dengan masalah,” ujar Guno.

Padahal yang dibutuhkan Industri itu 20 persen Knowledge, 30 persen skill dan 50 persennya adalah Attitude, lanjut Guno.

“Kompetensi kerja ditentukan dengan penggunaan bahasa Inggris serta keterampilan dalam bekerja,” pungkasnya.

Dari PHRD Jateng sendiri juga merencanakan sebuah program kunjungan bagi siswa SMU, SMK dan Mahasiswa ke perusahaan-perusahaan.

Hal ini berkaitan dengan komitmen Paguyuban HRD Perusahaan se-Jawa Tengah beserta Gubernur bahwa setiap lowongan kerja di Jawa Tengah sebaiknya diisi oleh tenaga kerja Jawa Tengah. (BJT01)