Home News Update Guru Dituntut Profesional

Guru Dituntut Profesional

KUDUS, 18/11 (BeritaJateng.net) – Menjadi guru, mengajar, jangan sekali-kali dengan niatan untuk mengejar uang, tetapi biarlah uang yang akan mengejar Anda. Caranya, yaitu dengan menjadi guru yang profesional.

Demikian poin penting yang disampaikan guru besar Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof. Dr. Etty Soesilowati M.Si. di depan lebih dari seribu mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK), Rabu (18/11/2015).

Dalam seminar nasional bertajuk ‘’Peningkatan Profesionalisme Guru SD dalam Menghadapi MEA’’ yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa (Hima) PGSD di Auditorium Kampus UMK, dia mengemukakan, bahwa tugas seorang guru (pendidik) itu sangat berat.

‘’Tugas guru mengantarkan generasi bangsa ini menjadi generasi yang cerdas dan berkualitas. Maka, guru yang baik adalah jika anak didiknya itu lebih pandai (cerdas) melebihi gurunya,’’ paparnya.

Prof Etty menambahkan bahwa persaingan di masa-masa mendatang akan lebih berat, apalagi per akhir tahun ini (Desember), kebijakan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mulai diberlakukan.

‘’Ke depan, kertas-kertas (sertifikat/ ijazah) itu sangat menentukan (penting). Sepandai apapun orang, kalau tidak punya sertifikat maka tidak akan dianggap. Sebaliknya, sebodoh apapun, kalau dia punya sertifikat, maka bisa bisa bisa jadi apapun,’’ katanya mengingatkan.

Ardian Awaluddin S.Pd. M.Si., narasumber lain dalam kesempatan itu menyampaikan, adanya pergeseran terhadap konsep guru, yakni mengalami dilema eksistensial, padahl dulu dikenal sebagai ‘’Pahlawan tanpa tanda jasa’’ karena ketulusannya dalam mengabdi.

‘’Saat ini, apresiasi pemerintah terhadap profesi guru sangat bagus, dengan diterbitkannya regulasi mengenai sertifikasi yang diharapkan tidak sekadar berdampak positif pada kesejahteraan guru, tetapi meningkatkan profesionalismenya dalam menransfer pengetahuan dan penanaman nilai-nilai luhur karakter kemanusiaan dan kehidupan,’’ paparnya.

Namun menurutnya, konsep (sertifikasi-Red) yang dirumuskan malah menjadi bumerang sekaligus menjadi tantangan, karena -kebijakan sertifikasi- tidak cukup merubah mental dan kualitas guru ketika mengajar atau mendidik siswanya.

‘’Harapan guru tidak menransfer pengetahuan saja, tetapi membuat siswa cinta pengetahuan, mampu menemukan, dan membuat siswa memiliki karakter hebat, ternyata hanya terjawab oleh beberapa guru saja,’’ katanya. (BJ)