Home Nasional GRA untuk Integrasikan Adaptasi Iklim pada Praktek Pertanian

GRA untuk Integrasikan Adaptasi Iklim pada Praktek Pertanian

10
GRA untuk Integrasikan Adaptasi Iklim pada Praktek Pertanian

Bali, 9/10 (BeritaJateng.net) – Indonesia diwakili oleh Kementerian Pertanian (Kementan) menjadi tuan rumah pelaksanaan the 9th Global Research Alliance (GRA) Green Gas Houses and Emission Council Meeting pada 6-7 September 2019. Pertemuan GRA dirangkaikan dengan the 5th Global Science Conference on Climate Smart Agriculture yang akan dilaksanakan di Jimbaran, Bali pada 8-11 Oktober 2019.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Dr. Fadjry Djufry dalam sambutannya pada pembukaan pertemuan menyebutkan bahwa climate change atau perubahan iklim adalah hal yang nyata dan telah memberikan dampak yang ekstrim di berbagai negara.

“Untuk itu, emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global memerlukan tindakan oleh seluruh pihak dalam melaksanakan upaya mereduksi emisi gas rumah kaca, dan pada saat bersamaan mengembangkan inisiatif global guna adaptasi dan mitigasi perubahan iklim,” ujar Fadjry.

Lebih lanjut dikatakan bahwa sektor pertanian adalah yang paling rentan dalam menghadapi cuaca yang ekstrim karena perubahan iklim. Namun demikian, sektor ini tetap harus dapat berproduksi tinggi guna memenuhi kebutuhan pangan.

“Dalam kesempatan ini saya juga ajukan rencana penelitian terkait manajemen pertanian dalam rangka adaptasi terhadap perubahan iklim,” tambah Fadjry.

Pada kesempatan yang sama juga dilaksanakan penyerahan posisi Ketua GRA dari negara Jerman ke Indonesia.

Dr. Fadjry Djufry selaku Ketua GRA yang baru menyampaikan bahwa dengan dukungan serta kolaborasi dari seluruh pihak, GRA dapat melanjutkan kegiatan yang ada khususnya terkait menghadapi perubahan iklim.

“Dunia menunggu implementasi dari system manajemen yang berbasis sains untuk pangan dan pertanian yang lebih kuat,” kata Fadjry.

Fajdry juga mengemukakan visi GRA untuk jangka waktu satu tahun ke depan yakni GRA pada tahun 2020 GRA akan menjadi majelis paling terkemuka di dunia yang berurusan dengan penelitian dan pengembangan teknologi terkait adaptasi terhadap iklim ekstrem dan mitigasi gas rumah kaca pertanian.

Sebagai informasi, Global Research Alliance on Agricultural Greenhouse Gases (GRA) diluncurkan bulan Desember 2009 dan saat ini mempunyai anggota 56 negara. Aliansi ini membawa negara-negara anggotanya untuk mencari dan mempraktekan cara untuk mengembangkan pertanian guna memperoleh pangan berlimpah tanpa harus meningkatkan emisi gas rumah kaca.

Kegiatan Aliansi ini dilaksanakan melalui empat grup riset, yaitu Paddy Rice, Livestock, Cropland, dan Integrative. Setiap grup riset melaksanakan pertemuan rutin guna mengevaluasi kemajuan kegiatan yang sedang dilaksanakan dan juga membahas isu-isu terkini.  Kegiatan setiap grup riset telah disetujui oleh para peserta rapat aliansi. Rapat aliansi telah dilaksanakan delapan kali, dan kali kesembilan akan dilaksanakan di Indonesia, dimana tahun 2019 ini Indonesia bertindak sebagai Ketua Konsil GRA.

Pemerintah Indonesia melalui Kementan terus mendorong dan mengembangkan sistem pertanian yang ramah iklim dan ramah lingkungan, selain itu Pemerintah terus bermitra dengan negara lain dan beberapa lembaga internasional agar sistem pertanian ramah iklim dapat dimodifikasi dan diterapkan di Indonesia.

Tujuan dari kegiatan ini antara lain guna mengembangkan kerja sama kemitraan dengan peneliti dari lembaga internasional, dan delegasi antarnegara anggota GRA. Council meeting GRA diadakan setiap tahun dan dihadiri oleh 56 negara anggota GRA.

Pertemuan kesembilan kali ini mengambil tema ‘Decision support tools’ yang fokus kepada sains dan training pada GRA’s Research Groups. (El)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × 2 =